Jemaah Jaga Masjid Semalaman, Waspadai Gelombang Islamofobia Pasca Tragedi Bondi

- Rabu, 07 Januari 2026 | 14:45 WIB
Jemaah Jaga Masjid Semalaman, Waspadai Gelombang Islamofobia Pasca Tragedi Bondi

Rasa takut itu nyata. Di sebuah masjid di Minto, sekitar satu jam perjalanan dari Sydney, beberapa jemaah kini rela menginap semalaman. Tujuannya satu: menjaga tempat ibadah mereka dari aksi vandalisme yang mengintai. Ini adalah langkah ekstra yang mereka ambil, sebagai respons dari melonjaknya ancaman Islamofobia pasca serangan mengerikan di Bondi bulan lalu.

Seorang anggota komite masjid yang enggan disebutkan namanya mengaku, tidur di masjid adalah bentuk perlindungan paling langsung yang bisa mereka lakukan. Suaranya terdapat getar saat berbicara kepada ABC Indonesia.

"Banyak anggota jemaah kami yang takut. Mereka terus kepikiran, 'apa yang bakal terjadi selanjutnya?'"

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Australian National Imams Council (ANIC) mencatat, ancaman dan ujaran kebencian terhadap Muslim melonjak hingga 200 persen sejak peristiwa 14 Desember di Bondi. Setidaknya sembilan masjid dan organisasi Islam sudah melapor ke polisi. Angka itu belum termasuk serangan terhadap individu, terutama perempuan berhijab, yang kerap menjadi sasaran paling rentan.

Premier New South Wales, Chris Minns, menyebut situasi ini "mengerikan".

"Saya hanya ingin menekankan kalau rasisme tidak akan ditoleransi," tegasnya. "Ini bukan main hakim sendiri. Ini bukan balas dendam. Ini rasisme yang penuh kebencian di komunitas kita."

Di sisi lain, ancaman ternyata tak hanya berpusat di Sydney. Masjid tertua di pusat kota Melbourne yang dikelola komunitas Muslim Albania, untuk pertama kalinya menerima email kebencian. ABC Indonesia telah melihat isinya: Islam disebut sebagai "sekte kematian" dan mereka disuruh "keluar dari masyarakat Yahudi-Kristen".

Selima Ymer dari Albanian Australian Islamic Society Women's Committee yakin, email itu adalah reaksi atas serangan Bondi. Ia merasa was-was.

"Mengkhawatirkan. Kita jadi bertanya-tanya, apalagi yang bisa terjadi? Sekarang kita dapat email, besok bisa jadi sesuatu yang lebih serius."

Ketakutannya mendalam. Banyak di komunitasnya yang khawatir Islamofobia ini bisa memicu kekerasan mematikan, seperti serangan Christchurch di Selandia Baru tahun 2019 silam. "Kita selalu takut akan insiden seperti itu," ujarnya.

Ironisnya, semua ini terjadi meski ada tindakan heroik seorang Muslim, Ahmed Al Ahmed, yang tanpa senjata menerjang salah satu penembak di Bondi. Ancaman tetap berlanjut.

Dari Grafiti hingga Kepala Babi

Laporan dari Islamophobia Register Australia menggambarkan peningkatan yang drastis. Dari rata-rata satu atau dua laporan per hari, kini menjadi sekitar 18 laporan harian sejak 14 Desember. Rentangnya luas: dari grafiti simbol Nazi dan kata-kata kotor di dinding masjid Brisbane, vandalisme di sekolah Muslim Melbourne, hingga penemuan beberapa kepala babi di pemakaman Muslim di New South Wales.

Mohamed Mohideen, Presiden Islamic Council of Victoria (ICV), mengaku kewalahan. Mereka menerima puluhan panggilan telepon ancaman dan terpaksa menutup kolom komentar di media sosial karena banjir ujaran kebencian.

"Semuanya adalah ujaran kebencian," kata Dr. Mohideen. "Kebencian bisa muncul daring, tapi bisa berubah jadi serangan fisik. Tidak seorang pun boleh merasa tidak aman."

Ia juga menyoroti penggunaan istilah-istilah seperti "Islam radikal" yang menurutnya justru memicu ketakutan buta. "Orang-orang jadi yakin Muslim adalah musuh, penyebab semua masalah," keluhnya.

ANIC dalam pernyataannya menegaskan, "kemarahan selektif" hanya akan memperdalam perpecahan. Mereka juga dengan keras membedakan Islam dari pelaku teror, menekankan bahwa ISIS atau Daesh tidak pantas dikaitkan dengan nama agama.

Mencari Solusi di Tengah Ketakutan

Bagi Selima, penjagaan polisi di masjid saja tidak cukup. Perlu ada upaya pendidikan yang lebih mendasar kepada publik tentang apa itu Islam sebenarnya mirip dengan program pendidikan anti-Semitisme yang diumumkan pemerintah setelah serangan Bondi.

Pakar kontra-terorisme Greg Barton dari Deakin University melihat kompleksitas masalah ini. Para pemimpin Muslim, katanya, terjepit di antara kebutuhan mengutuk kekerasan dan mencegah stigma kolektif. Tapi ia mengingatkan, radikalisasi dan ekstremisme adalah masalah global yang bisa menimpa komunitas mana pun, dan tindakan individu tidak mewakili seluruh kelompok.

Di tingkat pemerintah, rekomendasi dari laporan Utusan Khusus untuk Mengatasi Islamofobia, Aftab Malik, yang berisi 54 poin termasuk pendidikan anti-rasisme sedang dipertimbangkan. Harapannya jelas: agar masyarakat paham bahwa Muslim Australia adalah warga biasa, sama seperti yang lain, yang juga ingin hidup dengan damai dan tanpa rasa takut.

Selima, yang kini lebih berhati-hati setiap keluar rumah, berharap pemahaman itu segera tumbuh. "Dengan memahami kami lebih baik," katanya, "masyarakat akan sadar kami hanyalah warga Australia biasa."

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar