Di sisi lain, solidaritas Moskow kepada Caracas ditegaskan kembali. Mereka berjanji akan terus memberikan dukungan yang diperlukan. "Kami menyambut baik upaya yang dilakukan oleh otoritas resmi negara ini untuk melindungi kedaulatan negara dan kepentingan nasional," lanjut pernyataan itu. "Kami menegaskan kembali solidaritas Rusia yang tak tergoyahkan."
Latar belakangnya memang panas. Aksi pasukan khusus AS yang menyergap dan menangkap Maduro pada Sabtu dini hari, 3 Januari, jelas memicu gejolak. Maduro sendiri membantah semua tuduhan narkotika dan bersikukuh bahwa dialah pemimpin sah Venezuela.
Ini bukan kali pertama sekutu dekat Rusia jatuh. Kurang dari setahun sebelumnya, tepatnya Desember 2024, Presiden Suriah Bashar al-Assad juga digulingkan. Maduro seolah menjadi sekutu kedua yang tumbang dalam waktu berdekatan.
Yang menarik, Presiden Vladimir Putin masih memilih diam. Padahal, ia dikenal dekat dengan Maduro. Sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih setahun lalu, Putin memang berhati-hati, menghindari kritik terbuka. Ambisinya? Memperbaiki hubungan dengan Washington dan menghidupkan lagi kerja sama ekonomi. Mungkin itu sebabnya, hingga kini, ia belum juga berkomentar soal aksi Trump menggulingkan Maduro.
Artikel Terkait
Nyaris Tewas, Pasangan Suami Istri Lompat dari Motor Hindari Truk Ngamuk di Flyover Ciputat
DPR Soroti Lokasi Pos Gizi Berdampingan dengan Peternakan Babi di Sragen
Warga Kramat Jati Berperang dengan Bau Busuk Sampah Pasar Induk
Tembakan ICE di Minneapolis: Terorisme Domestik atau Tragedi di Jalanan?