Di awal tahun ini, pemerintah punya rencana besar untuk menangani gunungan sampah di sejumlah daerah. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengumumkan bahwa pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy bakal segera dimulai. Tak tanggung-tanggung, proyek ini akan dibangun di 34 titik yang tersebar di kabupaten dan kota seluruh Indonesia.
Lokasinya dipilih dengan pertimbangan khusus. Menurut Prasetyo, proyek PSEL ini akan dibangun khusus di daerah-daerah yang volume timbulan sampah hariannya sudah menyentuh angka rata-rata 1.000 ton. Bayangkan saja, sampah sebanyak itu setiap harinya. Kalau tidak ditangani cepat, ya sudah pasti menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan yang serius.
"Waste to Energy akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari," jelas Prasetyo.
Ia menambahkan, "Ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah sehingga sampah-sampah tersebut tidak menggunung dan menimbulkan banyak masalah."
Pernyataan itu disampaikannya kepada para wartawan di Hambalang, Bogor, Selasa lalu.
Nah, proyek ambisius ini ternyata cuma satu bagian dari paket yang lebih besar. Prasetyo menambahkan bahwa PSEL termasuk dalam 18 proyek hilirisasi strategis yang akan digarap pada periode Januari hingga Maret 2026. Proyek-proyek ini diklaim sudah melewati tahap prastudi kelayakan. Nilai investasinya? Sungguh fantastis, mencapai Rp 600 triliun. Dan yang akan memimpin realisasi investasi ini adalah Danantara Indonesia.
Secara sederhana, PSEL adalah proses mengolah sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang lagi. Melalui berbagai teknologi, sampah itu diubah menjadi sumber energi, bisa listrik, panas, atau bahan bakar alternatif. Harapannya jelas: selain mengatasi masalah sampah, teknologi ini juga bisa bantu kurangi ketergantungan kita pada energi konvensional seperti batu bara, sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.
Di sisi lain, pemerintah ternyata tidak berhenti di situ. Prasetyo juga menyebutkan bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan groundbreaking untuk proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Intinya, batu bara dengan kalori rendah akan diolah jadi gas alternatif. Targetnya, untuk menekan impor dan kebutuhan akan gas LPG.
"Kemudian juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, program-program di bidang pertanian juga," tutup Prasetyo, memberi sinyal bahwa masih ada sejumlah agenda lain yang sedang disiapkan.
Artikel Terkait
Polres Metro Depok Bina 10 Pelaku Tawuran lewat Pesantren Kilat
Polisi Tangkap Komplotan Perampok Rp800 Juta di Lampung di Batu Bara
Mendagri Tito Tekankan Kecepatan dan Data Jadi Kunci Pemulihan Bencana Pidie Jaya
Trump Naikkan Rencana Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung