Setelah pintu terbuka, remaja itu pun dipaksa masuk ke mobil damkar. Di sisi lain, setelah berada di dalam mobil, keadaan perlahan mulai reda. Keluarga kemudian punya ide. "Sekalian dibawa ke mantri sunat aja," begitu usul mereka, menurut penuturan Syahrial.
Rupanya, upaya persuasi dari keluarga besar pun sudah dicoba. "Ortunya sempat minta mamangnya juga yang TNI dan polisi dulu, si anak nggak mau," tambahnya.
Akhirnya, mobil pemadam itu membawa langsung remaja 16 tahun tersebut ke seorang mantri sunat di Kecamatan Sukawangi. Baru pada sore harinya, setelah semua urusan selesai, damkar mengantarkan pulang si anak.
Soal biaya, keluarga yang menanggung. Syahrial sempat membujuk sang mantri untuk memberi keringanan. "Saya bilang ke mantrinya 'minta tolong Pak, dibawa ke sini aja udah alhamdulillah'. Akhirnya dikasih kortingan untuk biayanya," ucapnya lega.
Kepulangan remaja itu disambut tetangga-tetangganya. Sambutan itu seperti jadi penghiburan baginya setelah melalui hari yang melelahkan. Ketakutan adalah alasan utamanya menolak sunat selama ini.
"Alasannya 'saya takut Pak'," kata Syahrial menirukan. Remaja yang disebutnya putus sekolah itu akhirnya harus merelakan khitanannya, ditemani bunyi sirine yang tak biasa.
Artikel Terkait
Tragedi di Gaza: Drone Israel Tewaskan Empat Anak dalam Serangan ke Tenda Pengungsi
Survei LSI: Mayoritas Publik Tolak Pilkada Lewat DPRD, Istana Angkat Bicara
Dua Prajurit Atlet Langsung Naik Pangkat Usai Bawa Emas SEA Games
Sisa Kayu Banjir Lalu Kembali Hanyut di Sungai Wih Gile