Bencana datang di tengah malam. Sekitar pukul tiga pagi, Senin lalu, banjir bandang menyapu beberapa wilayah di Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. Akibatnya cukup parah: korban jiwa berjatuhan, akses jalan putus, dan fasilitas umum rusak berat. Menanggapi situasi ini, pemerintah setempat akhirnya mengambil langkah tegas.
Pemkab Sitaro resmi menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Status ini akan berlaku selama dua pekan ke depan.
Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, mengonfirmasi hal tersebut melalui sebuah surat edaran.
"Penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro," ujarnya.
Ia menambahkan, "Penanganan status tanggap darurat Hidrometeorologi yang berlangsung selama 14 hari, terhitung mulai tanggal 5 Januari 2026 sampai dengan tanggal 18 Januari 2026."
Jadi, masa darurat itu dimulai sejak sehari sebelum pengumuman, tepatnya pada tanggal 5 Januari. Wilayah yang paling terpukul adalah empat kecamatan: Siau Timur, Siau Timur Selatan, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Menurut data terbaru dari BPBD setempat, tragedi ini telah merenggut 13 nyawa.
Di sisi lain, korban luka-luka tercatat ada 18 orang. Bahkan hingga kini, tim masih berusaha mencari tiga warga lainnya yang dilaporkan hilang. Menurut analisis sementara, hujan dengan intensitas sangat tinggi diduga menjadi pemicu utama banjir bandang tersebut.
Kini, dengan ditetapkannya status darurat ini, upaya penanganan dan pemulihan diharapkan bisa berjalan lebih terkoordinasi dan cepat. Masyarakat setempat pun masih berusaha bangkit dari musibah yang datang tiba-tiba itu.
Artikel Terkait
Helikopter Penyelamat Jatuh di Peru, 15 Orang Tewas
Dokter Tirta Ingatkan Minum Kopi Saat Sahur Berisiko Dehidrasi
Saan Mustopa Padukan Bagi-bagi Sembako dengan Konsolidasi Data Jelang 2029
Gibran Ingatkan Pemerataan Guru Jadi Fondasi Transformasi Digital