Kripto dan Utang, Bocah 9 Tahun Tewas Ditusuk Pelaku yang Putus Asa

- Senin, 05 Januari 2026 | 21:25 WIB
Kripto dan Utang, Bocah 9 Tahun Tewas Ditusuk Pelaku yang Putus Asa

Kasus pembunuhan anak seorang politikus PKS di Cilegon benar-benar membuka tabir sisi brutal pelakunya. Korban, seorang bocah lelaki berusia 9 tahun, harus meregang nyawa dengan puluhan luka tusuk dan lebam di sekujur tubuhnya. Sungguh mengerikan.

Pelaku yang berinisial HA sempat hilang dari kejaran polisi selama hampir tiga pekan. Dia baru berhasil diringkus bukan saat bersembunyi, melainkan justru ketika kembali beraksi. Kali ini, rumah yang menjadi sasarannya adalah kediaman mantan anggota DPRD Cilegon, Roisudin Sayuri. Penangkapan terjadi Jumat lalu. Begitu ketahuan, HA berusaha kabur masuk ke dalam rumah, tapi akhirnya disergap warga yang bekerja sama dengan polisi.

Setelah diperiksa, motif di balik semua kekejian ini ternyata klasik: uang. Tapi ceritanya tidak sederhana. Menurut Direktur Reskrim Polda Banten, Kombes Dian Setyawan, semua berawal dari ketagihan HA bermain saham kripto. Modal awalnya Rp 400 juta, yang didapat dari tabungan bersama istrinya. Ajaibnya, dari situ dia sempat meraup untung fantastis, mencapai Rp 4 miliar.

"Dari Rp 400 juta ini dimainkan berkembang sampai mendatangkan keuntungan senilai Rp 4 miliar," kata Dian dalam konferensi pers di Polres Cilegon, Senin (5/1).

Namun begitu, rasa puas tak kunjung datang. Hasil Rp 4 miliar itu dia putar lagi, berharap mendapat lebih banyak. Hasilnya? Justru kalah total. "Dimainkan lagi sehingga yang bersangkutan kalah, adapun akun yang digunakan yaitu melalui aplikasi," jelas Dian. Untuk menutupi kerugian dan berusaha balik modal, HA pun berhutang ke mana-mana: Rp 700 juta dari bank, Rp 70 juta dari koperasi tempatnya bekerja, bahkan sampai Rp 50 juta dari pinjaman online. Tujuannya sama, main kripto lagi. Dan lagi-lagi, uang itu raib.

Terjepit utang, HA lalu beralih ke cara instan dan berbahaya: membobol rumah.

Polisi menyatakan dia bertindak sendirian. Modusnya terbilang sederhana tapi nekat. Dia memilih rumah secara acak, lalu menekan bel pintu berkali-kali. "Sampai tiga atau empat kali. Kalau tidak ada respons, dianggap rumah kosong. Barulah dia melompati pagar dan mulai beraksi," papar Dian. Rencananya sudah disiapkan matang. Jika ada yang membuka pintu, dia akan pura-pura menanyakan alamat.

Rumah keluarga politikus PKS itu adalah target pertamanya. Saat kejadian, hujan turun dengan deras. "Pelaku mendatangi lokasi, memencet bel empat kali. Tidak ada jawaban. Lalu dia mencoba bel di tiang dekat pos satpam," tutur Dian. Setelah yaman aman, HA langsung menuju lorong samping rumah. Di sana, dia mencongkel jendela kamar pembantu.

Dia diduga mengenakan masker, helm full face, dan sarung tangan. Setelah berhasil masuk ke lantai satu, matanya langsung tertuju pada sebuah brankas besar yang pintunya terbuka. Sayangnya, brankas itu tak bisa dibuka. Bahkan setelah digeser-geser pun tetap tak membuahkan hasil. Frustasi, HA naik ke lantai dua.

Dan di sanalah segalanya berubah menjadi tragedi. Di lantai dua, dia bertemu dengan sang bocah di kamarnya. HA lalu menanyai korban tentang kunci brankas. Pertemuan inilah yang akhirnya berujung pada hilangnya nyawa seorang anak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar