Polisi menyatakan dia bertindak sendirian. Modusnya terbilang sederhana tapi nekat. Dia memilih rumah secara acak, lalu menekan bel pintu berkali-kali. "Sampai tiga atau empat kali. Kalau tidak ada respons, dianggap rumah kosong. Barulah dia melompati pagar dan mulai beraksi," papar Dian. Rencananya sudah disiapkan matang. Jika ada yang membuka pintu, dia akan pura-pura menanyakan alamat.
Rumah keluarga politikus PKS itu adalah target pertamanya. Saat kejadian, hujan turun dengan deras. "Pelaku mendatangi lokasi, memencet bel empat kali. Tidak ada jawaban. Lalu dia mencoba bel di tiang dekat pos satpam," tutur Dian. Setelah yaman aman, HA langsung menuju lorong samping rumah. Di sana, dia mencongkel jendela kamar pembantu.
Dia diduga mengenakan masker, helm full face, dan sarung tangan. Setelah berhasil masuk ke lantai satu, matanya langsung tertuju pada sebuah brankas besar yang pintunya terbuka. Sayangnya, brankas itu tak bisa dibuka. Bahkan setelah digeser-geser pun tetap tak membuahkan hasil. Frustasi, HA naik ke lantai dua.
Dan di sanalah segalanya berubah menjadi tragedi. Di lantai dua, dia bertemu dengan sang bocah di kamarnya. HA lalu menanyai korban tentang kunci brankas. Pertemuan inilah yang akhirnya berujung pada hilangnya nyawa seorang anak.
Artikel Terkait
Dua Pengendara Motor Luka-luka Akibat Tabrakan di Ruas Jakarta-Bogor
Majikan di Bogor Ditahan Usai Aniaya ART, Korban Masih Perlu Perawatan
Nasdem Dorong Situs Patiayam Kudus Jadi Cagar Budaya Nasional
Undangan Nikah Beredar, Virgoun Dikabarkan Akan Menikah dengan Lindi