Operasi militer AS yang menggempur Caracas dan berakhir dengan penangkapan Nicolas Maduro, tentu saja, memicu gelombang kritik tajam. Namun di tengah sorotan itu, Donald Trump justru bersikukuh dengan pendiriannya. Mantan presiden Amerika Serikat itu dengan lantang menyatakan negaranya kini "bertanggung jawab" atas Venezuela.
Pernyataan kontroversial itu dia sampaikan dari dalam Air Force One, Minggu (4/1), saat menjawab pertanyaan wartawan. Operasi yang terjadi pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat itu bukan hanya menahan Maduro, tetapi juga istrinya, Cilia Flores.
"Itu berarti kita yang bertanggung jawab," ujar Trump, menegaskan maksud dari pernyataan-pernyataan sebelumnya.
Kini, Maduro menunggu jadwal persidangan di New York pada Senin (5/1) untuk menjawab dakwaan perdagangan narkoba. Langkah AS ini, seperti dilaporkan AFP, membuat Trump menghadapi sederet pertanyaan mendasar. Terutama soal klaimnya yang berulang bahwa Amerika Serikat sekarang memegang kendali di Venezuela.
Di sisi lain, situasi di Venezuela sendiri tampak berusaha menemukan keseimbangan baru. Delcy Rodriguez, yang mengambil alih kepemimpinan sementara, menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan pemerintahan Trump. Hanya saja, dia punya syarat: hubungan yang dijalin harus seimbang dan dilandasi rasa saling menghormati.
Padahal sebelumnya, Trump tidak segan memberikan ancaman. Rodriguez, kata dia, akan menghadapi konsekuensi serius "harga yang mahal" jika menolak kerja sama dengan Washington.
Ketika ditanya wartawan apakah dia sudah berbicara langsung dengan pemimpin sementara Venezuela itu, Trump malah memberikan jawaban yang berbelit. "Kita berurusan dengan orang-orang yang baru saja dilantik. Jangan tanya saya siapa yang bertanggung jawab karena saya akan memberikan Anda jawabannya dan itu akan sangat kontroversial," katanya.
Gaya khas Trump. Langsung, provokatif, dan meninggalkan banyak tanya. Sementara dunia masih mencerna implikasi dari operasi militer yang mematikan itu, satu hal yang jelas: pernyataan dari Air Force One itu telah menambah panas suasana, jauh sebelum sidang di New York dimulai.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Subuh Surabaya Hari Ini, 23 Februari 2026
ASEAN Foundation dan Polda Jateng Kolaborasi Gelar Pelatihan AI untuk Ribuan Warga
Harmoni Imlek Nusantara Digelar di Lapangan Banteng, Rayakan Keberagaman di Bulan Ramadan
Muzani: Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace Langkah Diplomasi Berani