Intinya, Jakarta ingin komunitas global menghormati hak rakyat Venezuela. Mereka harus dibiarkan menentukan sendiri masa depan bangsa mereka tanpa intervensi dari luar.
Di sisi lain, operasi AS yang berujung penangkapan Maduro ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Aksi besar-besaran ini seperti puncak gunung es dari tekanan berbulan-bulan pemerintahan Trump terhadap Caracas. Maduro sendiri diamankan pada Sabtu dini hari, tanggal 3 Januari, lalu dibawa ke AS bersama istrinya.
Presiden Trump punya alasan kuat. Ia telah lama mendesak Maduro turun dan menuduhnya berkonspirasi dengan kartel narkoba. Tuduhan itu serius: Maduro dan jaringan narkoba dinyatakan bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat obat-obatan terlarang.
Sejak September tahun lalu, operasi militer AS di perairan dekat Venezuela memang semakin gencar. Lebih dari 100 orang tewas dalam puluhan serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba. Namun, aksi ofensif ini sendiri menuai kritik. Banyak pengamat hukum bilang, langkah AS kemungkinan melangkahi hukum mereka sendiri dan tentu saja, hukum internasional.
Jadi, situasinya rumit. Di satu sisi ada narasi perang melawan narkoba, di sisi lain ada pelanggaran kedaulatan yang disorot banyak negara, termasuk Indonesia.
Artikel Terkait
Timnas PK Segera Bahas Penurunan Indeks Korupsi dengan Transparency International
18 Negara Kecam Kebijakan Baru Israel di Tepi Barat sebagai Upaya Aneksasi
Harga Daging Ayam di Pasar Prawirotaman Yogyakarta Naik Menjelang Ramadan
Sudinsos Jakbar Kejar Wanita Viral Penunggak Bayar Makan dan Transportasi