Tebing Ngarai Sianok Ambrol, Sawah Tergerus dan Pariwisata Terpukul

- Minggu, 04 Januari 2026 | 05:40 WIB
Tebing Ngarai Sianok Ambrol, Sawah Tergerus dan Pariwisata Terpukul

Hujan deras yang mengguyur tanpa henti akhirnya memicu bencana di Guguak Tinggi, Kabupaten Agam. Tebing Ngarai Sianok ambrol dengan ketinggian sekitar 120 meter dan lebar 15 meter. Peristiwa ini terjadi Kamis lalu, dan untungnya, tak ada korban jiwa yang berjatuhan.

Menurut Kepala Desa setempat, Dasman, lokasi longsoran itu berjarak kira-kira satu setengah kilometer dari permukiman warga.

"Pemicunya hujan deras dengan durasi lama. Puncaknya Kamis (1/1) lalu. Alhamdulillah, tak ada korban jiwa," jelas Dasman.

Sudut ngarai yang longsor itu dikenal warga sebagai Ngarai Kaluang. Walau jauh dari rumah penduduk, dampaknya tetap terasa. Beberapa petak sawah ikut terkikis terbawa material longsor. Pemerintah desa pun sudah melaporkan kejadian ini ke BPBD Agam.

Dasman mengakui, ini bukan kali pertama tebing di sana bergerak. Longsor sudah beberapa kali terjadi.

"Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Khususnya untuk mengingatkan warga di sepanjang aliran Ngarai Sianok, Bukittinggi, agar menjauh dari sungai saat longsor terjadi," katanya.

Tak ada evakuasi warga dilakukan. Pergerakan tanah di bibir ngarai itu dinilai masih aman dari kawasan hunian. Meski begitu, peringatan keras tetap disampaikan.

"Tapi kami tegas mengingatkan warga yang bertani atau berkebun: jangan mendekati bibir ngarai. Itu berbahaya," tegas Dasman.

Soal video longsor yang sempat viral di media sosial, Dasman punya penjelasan. Saat tebing itu runtuh, beberapa warga sedang bekerja di lokasi bukan untuk swafoto, melainkan memperbaiki sumber mata air.

"Waktu kejadian, ada lima warga kami yang sedang perbaiki bak penampung air untuk kebutuhan rumah. Saat ini kami memang sedang mengalami krisis air bersih," ungkapnya.

Di sisi lain, warga lain yang tinggal di dekat sungai Ngarai Sianok, Rahmat (35), punya cerita berbeda. Ia melihat perubahan signifikan pasca banjir bandang akhir November lalu.

"Longsornya mungkin cuma sebagian kecil. Tapi debit air dari hulu makin besar dan merusak fasilitas. Satu mushala untuk pengunjung sampai roboh," tutur Rahmat.

Dampaknya langsung terasa di sektor pariwisata. Pengunjung kini enggan datang, aktivitas ekonomi pun ikut merosot. Rahmat yang biasa menyewakan pelampung dan mobil offroad mengaku dagangannya sepi.

"Saya usaha rental pelampung dan mobil offroad. Sekarang belum bisa beraktivasi normal. Wisatawan masih takut datang sejak bencana itu," keluhnya.

Ngarai Sianok yang biasanya ramai kini terasa lebih sunyi. Ancaman longsor mungkin sementara mereda, tapi kekhawatiran warga dan pelaku wisata masih membayangi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar