Tragedi Medan: Anggota DPR Soroti Bahaya Konten Digital Tanpa Pendampingan

- Selasa, 30 Desember 2025 | 17:40 WIB
Tragedi Medan: Anggota DPR Soroti Bahaya Konten Digital Tanpa Pendampingan
Kasus Medan dan Pengawasan Konten Digital

Kasus tragis di Medan, Sumatera Utara, benar-benar menyentak. Seorang siswi SD berinisial AI (12) diduga membunuh ibunya sendiri. Motifnya? Diduga kuat, dia terinspirasi oleh game online dan serial anime yang sering ditontonnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, angkat bicara. Baginya, kejadian ini adalah alarm peringatan yang tak boleh diabaikan.

"Kasus seorang anak sekolah dasar yang diduga melakukan tindakan keji terhadap ibunya merupakan peringatan keras bagi kita semua bahwa pengaruh konten digital perlu mendapat perhatian serius," tegas Dave kepada wartawan, Selasa (30/12/2025).

Dia melanjutkan, game dan anime sebenarnya bukan biang kerok utamanya. Persoalannya terletak pada cara konsumsinya. Anak-anak, dengan psikologi yang masih berkembang, seringkali menelan mentah-mentah apa yang mereka saksikan.

"Konten hiburan seperti game online maupun anime pada dasarnya bukanlah masalah," sambungnya. "Tetapi ketika dikonsumsi tanpa pendampingan, anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan psikologi dan emosional bisa salah menafsirkan atau meniru perilaku yang mereka lihat."

Memang, usia sekolah dasar adalah fase krusial. Kemampuan membedakan mana dunia nyata dan mana fantasi belum sepenuhnya matang. Kontrol emosi pun masih labil. Dalam kondisi seperti itu, paparan konten agresif di ruang digital bisa berisiko tinggi. Anak jadi rentan meniru.

Lalu, solusinya apa? Dave menekankan, pengawasan ketat dari orang tua mutlak diperlukan. Namun, itu saja tidak cukup.

"Komisi I DPR RI menekankan pentingnya penguatan literasi digital sejak dini," ujarnya. "Pendidikan di sekolah harus memberi bekal yang jelas mengenai cara berinteraksi dengan dunia digital, termasuk pemahaman tentang kesehatan mental dan regulasi emosi."

Intinya, kita butuh strategi ganda. Pengawasan di rumah, dan edukasi yang sistematis di sekolah. Agar hiburan tetap jadi hiburan, tanpa berubah menjadi mimpi buruk.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar