Momen itu, bagi banyak yang hadir, bukan sekadar pertunjukan kemampuan berbahasa. Ini adalah bukti nyata. Prof. Mohammad Nuh, Ketua Formatur Sekolah Rakyat, tampak haru. Ia menjelaskan, semua ini berakar dari trilogi sekolah mereka: memuliakan kaum cilik, menjangkau yang tak terjangkau, dan mewujudkan yang mustahil.
Pendampingan terhadap anak-anak ini, menurut Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, dilakukan terus-menerus. Tujuannya jelas: agar mereka bisa meraih cita-cita, entah itu kuliah atau langsung bekerja.
Acara yang digelar itu sendiri cukup besar. Total ada 2.091 peserta yang memadati Graha Unesa. Mereka adalah 898 siswa, didampingi 849 orang tua, plus 331 guru dan tenaga kependidikan dari 13 kepala sekolah. Peserta datang dari 12 Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai kota di Jawa Timur, mulai dari Pasuruan, Malang, Surabaya, hingga Bangkalan.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Turut hadir Plt. Asisten I Provinsi Jawa Timur Imam Hidayat yang mewakili Gubernur, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo, serta sejumlah kepala daerah dan dinas sosial se-Jawa Timur. Kehadiran mereka seperti pengakuan, bahwa apa yang dilakukan anak-anak ini bukan hal sepele. Ini tentang membangun kepercayaan diri, satu pidato dalam tiga bahasa pada satu sore yang menginspirasi.
Artikel Terkait
Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel
Sari Roti Ekspansi ke Industri Pakan Ternak, Manfaatkan Roti Sisa Produksi
Operasi Damai Cartenz Tangkap Anggota KKB Terduga Pelaku Penyerangan ke Tito Karnavian di 2012
Lebih dari 2.500 Pengunjung Padati Kawasan Monas Saat Libur Jumat Agung