Dari Medan Bencana ke Ruang Kelas: Kisah Tagana yang Mengajar Anak-anak Membaca Al-Quran

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 13:30 WIB
Dari Medan Bencana ke Ruang Kelas: Kisah Tagana yang Mengajar Anak-anak Membaca Al-Quran

Di SRMP 4 Kota Padang, rompi oranye Tagana itu tak hanya jadi simbol siaga bencana. Jeli Hendri, sang pemakainya, justru lebih sering terlihat di antara bangku-bangku sekolah, mendampingi para siswa. Sekolah ini sempat kebanjiran, lantainya masih berbekas lumpur. Nah, di tengah proses pemulihan itulah, kehadiran Jeli memberi rasa tenang. Ia bukan cuma petugas; ia sosok yang dihormati anak-anak.

Perhatiannya tertuju khusus pada satu kelompok. Dari 146 siswa di sekolah itu, ternyata ada 22 anak yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an.

“Kelompok inilah yang paling menyentuh hati saya,”

ungkap Jeli dalam sebuah keterangan tertulis akhir Desember lalu.

Ia bisa merasakan kegelisahan mereka. Bayangkan, di usia remaja, kemampuan dasar itu masih tertinggal. Dengan sabar, Jeli mulai membimbing mereka pakai metode Iqro. Perkembangannya ada, sih, meski lambat. Butuh waktu dan kesabaran ekstra.

Lalu, bagaimana awalnya ia bisa sampai di sini? Ceritanya berawal dari info soal Sekolah Rakyat yang digelar di beberapa titik di Sumbar. Konsepnya yang melibatkan pilar sosial langsung menarik minat Jeli. Tanpa pikir panjang atau menunggu surat tugas resmi, ia datang sendiri ke sekolah dan menawarkan bantuan. Baginya, mengabdi ya mengabdi saja. Tak peduli itu di lokasi bencana atau di depan kelas.

Jeli bukan pendatang baru di dunia sosial. Sejak 2006, ia sudah jadi anggota Tagana angkatan pertama di Sumbar. Di sisi lain, ia juga punya pengalaman lama mengajar di TPA. Gabungan pengalaman inilah yang kemudian membuatnya dipercaya jadi pembina keagamaan di SRMP 4.

Kesehariannya di sekolah itu padat. Dari latihan baris-berbaris, dampingi upacara, sampai urusan pembinaan. Dari situlah kedekatan dengan siswa pelan-pelan terjalin.

Menurut Jeli, rasanya mendidik anak-anak di Sekolah Rakyat ini tak beda jauh dengan tugasnya di lapangan bencana. Ia sendiri adalah bagian dari tim inti Layanan Dukungan Psikososial yang kerap ditugaskan langsung oleh Kementerian Sosial.

“Mendidik anak-anak ini seperti mendampingi penyintas bencana. Mereka berada di fase pancaroba. Penuh gejolak. Tapi justru di situlah peran kita,”

tegasnya.

Menjadi Tagana sekaligus pendidik tentu berat. Jadwalnya kerap bentrok. Di sekolah, ia juga masuk dalam sistem piket keamanan. Kalau dapat giliran jaga malam, esok paginya ia harus tetap siap mengajar. Begitu pula sebaliknya, habis seharian di sekolah, malamnya ia harus siaga jika ada panggilan darurat.

Kalau benar-benar tak bisa hadir, ia berkoordinasi dengan wali asuh agar bimbingan agama para siswa tak putus di tengah jalan.

Kegiatannya tak berhenti di dalam kelas. Jeli juga aktif membina Pramuka, yang wajib diikuti semua siswa. Bahkan, jauh sebelum ada surat tugas resmi, ia sudah turun langsung membersamai kegiatan mereka. Nilai-nilai seperti disiplin dan kesiapsiagaan sama persis dengan prinsip di dunia kebencanaan ia tanamkan perlahan.

Jadi, di tengah lingkungan sekolah yang baru pulih dan cuaca yang tak menentu, Jeli Hendri berdiri di dua medan sekaligus. Dari garis depan saat darurat, sampai ke ruang kelas yang penuh harapan. Ia membuktikan, kesiapsiagaan itu bukan cuma soal tanggap darurat, tapi juga tentang menjaga masa depan anak-anak yang tumbuh di daerah rawan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar