Setelah sempat lumpuh akibat kehabisan solar, Rumah Sakit Al-Awda di distrik Nuseirat, Gaza Tengah, akhirnya bisa kembali beroperasi. Tapi jangan senang dulu. Suplai bahan bakar yang baru datang itu cuma cukup untuk dua hari ke depan. Begitu kira-kira peringatan yang disampaikan pihak rumah sakit.
Menurut pejabat pengelola RS Al-Awda, Ahmed Mehanna, situasinya memang genting. Sebelumnya, hampir semua layanan terpaksa dihentikan karena generator listrik tak bisa menyala. Hanya unit-unit kritis yang masih bertahan: gawat darurat, ruang bersalin, dan bagian anak-anak.
"Sebagian besar layanan sementara dihentikan karena kekurangan bahan bakar untuk generator," ujar Mehanna.
"Hanya departemen penting yang tetap beroperasi: unit gawat darurat, ruang bersalin, dan pediatri," tambahnya.
Dalam kondisi normal, rumah sakit ini menghabiskan 1.000 hingga 1.200 liter solar per hari. Saat ini, stok yang ada cuma sekitar 800 liter. Kekurangan yang berkepanjangan, ia ingatkan, bakal langsung mengancam layanan dasar bagi pasien.
Jumat malam lalu, secercah harapan muncul. WHO berhasil mengirimkan 2.500 liter solar. Pasokan itulah yang memungkinkan Al-Awda kembali membuka pintu.
"Jumlah bahan bakar ini hanya akan bertahan dua setengah hari, tetapi kami dijanjikan pasokan tambahan pada Minggu depan," katanya.
Namun begitu, nada pesimis justru datang dari internal rumah sakit. Mohammed Salha, Pelaksana Tugas Direktur RS Al-Awda, punya pandangan lain. Ia menuding otoritas Israel sengaja membatasi pasokan solar untuk fasilitas kesehatan lokal.
"Kami mengetuk semua pintu agar bisa terus memberikan layanan, tetapi sementara pendudukan memberikan bahan bakar untuk lembaga internasional, mereka membatasinya untuk fasilitas kesehatan lokal seperti Al-Awda," kata Salha.
Di sisi lain, di tengah gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober lalu, krisis kemanusiaan di Gaza sama sekali belum reda. Data PBB menunjukkan bantuan yang masuk jauh dari target hanya 100 sampai 300 truk per hari, padahal seharusnya 600. Sebagian besar isinya malah barang komersial, yang tetap tak terjangkau oleh mayoritas dari 2,2 juta penduduk Gaza.
Kisah Khitam Ayada, seorang pengungsi berusia 30 tahun, mungkin bisa menggambarkan situasi sebenarnya. Beberapa hari lalu, dengan kondisi ginjal yang sakit, ia datang ke Al-Awda.
"Tapi mereka bilang tidak ada listrik untuk melakukan X-ray... dan mereka tidak bisa merawat saya," kenangnya.
"Kami kekurangan segalanya dalam hidup, bahkan layanan medis paling dasar," tambah wanita itu.
Sektor kesehatan memang jadi salah satu yang paling remuk. Selama perang berlangsung, Israel berulang kali menarget rumah sakit dengan alasan Hamas memanfaatkannya sebagai markas tuduhan yang selalu dibantah oleh kelompok tersebut.
Akibatnya, kini sekitar sepertiga dari 2.300 tempat tidur rumah sakit di Gaza dikelola oleh organisasi seperti Doctors Without Borders. Bahkan, semua pusat stabilisasi untuk anak-anak yang mengalami malnutrisi parah sepenuhnya bergantung pada dukungan LSM internasional.
Semua ini berawal dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.221 orang kebanyakan warga sipil. Perang itu memicu gelombang penderitaan yang hingga kini masih terus berdenyut, dengan rumah sakit-rumah sakit seperti Al-Awda berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup hari demi hari.
Artikel Terkait
Baleg DPR Gelar Rapat Evaluasi Prolegnas Prioritas 2026
Rumah di Jonggol Hangus Diduga Akibat Korsleting, Tak Ada Korban Jiwa
Aturan Ketenagakerjaan Paksa Stasiun Hidrogen Pertama Indonesia Ditutup
Ghislaine Maxwell Tolak Bersaksi di Hadapan Komite DPR AS, Ajukan Hak Amandemen Kelima