Pasar Pagi Pemalang Ludes Dilahap Api, 120 Unit Lapak dan Kios Hangus

- Jumat, 26 Desember 2025 | 16:25 WIB
Pasar Pagi Pemalang Ludes Dilahap Api, 120 Unit Lapak dan Kios Hangus

Api sudah menjalar cepat ketika petugas tiba di Komplek Pasar Pagi Pemalang, Selasa (23/12/2025) itu. Suasana kacau, tapi upaya pemadaman langsung digeber. Polres Pemalang, di bawah komando Kapolres AKBP Rendy Setia Permana, bergerak sigap mengamankan lokasi kejadian. Mereka tak bekerja sendirian; masyarakat sekitar turun tangan, bahu-membahu membantu tim Damkar melawan si jago merah.

Di tengah kepanikan, personil polisi punya tugas lain yang tak kalah genting: mengatur lalu lintas. Arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif agar tidak memperparah keadaan. Suara imbauan dari public address terus terdengar, meminta warga untuk menjauhi TKP.

"Personil juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat dengan menggunakan public address, agar tidak mendekat dan menjauhi TKP kebakaran,"

Begitu kata Kapolres Permana, menjelaskan langkah yang diambil timnya. Upaya itu penting untuk mencegah korban jiwa dan memberi ruang gerak bagi para petugas.

Kerugian materialnya ternyata tidak kecil. Menurut data yang berhasil dihimpun, bangunan yang dilalap api itu campuran antara semi permanen dan permanen, dengan material kayu yang mendominasi. Akibatnya, kobaran api sulit dikendalikan.

"Dari data yang kami himpun, kebakaran menimpa sejumlah kurang lebih 102 unit lapak dan 18 unit kios, dengan jenis dagangan mayoritas menjual pakaian, sepatu, tas dan boneka,"

Kapolres menambahkan detail itu. Bayangkan saja, ratusan pedagang kehilangan mata pencaharian dalam sekejap.

Namun begitu, di tengah bencana, ada secercah solidaritas. Personil polisi tak cuma menjaga keamanan. Mereka turun langsung, masuk ke area berasap, membantu para pedagang menyelamatkan apa saja yang masih bisa diselamatkan. Barang-barang dagangan dievakuasi sebisanya, mengurangi sedikit beban kerugian yang harus ditanggung.

Sampai sekarang, penyebab kebakaran masih diselidiki. Pasar yang biasanya ramai itu kini tinggal puing dan kesunyian.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar