Akhir tahun selalu memberi kita jeda. Saatnya menoleh ke belakang dengan jujur, lalu menatap ke depan dengan harapan yang lebih jernih. Dan harus diakui, tahun 2025 ini bukan tahun yang mudah. Dunia masih bergulat dengan perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik yang terus memanas, sementara laju teknologi melesat jauh lebih cepat dari kesiapan banyak orang.
Di tengah dinamika yang serba kompleks itu, Indonesia kembali diingatkan pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana caranya menyiapkan manusia Indonesia yang kuat karakternya, dan tangguh menghadapi perubahan zaman?
Nah, di sinilah pesantren kembali menemukan relevansinya. Lembaga ini bukan cuma tempat belajar agama semata. Lebih dari itu, ia adalah ruang pembentukan watak, tempat mengasah daya juang, dan laboratorium ketahanan sosial yang sudah teruji lintas generasi.
Bagi Santri Institute Indonesia, 2025 adalah tahun penting. Ada satu catatan strategis yang patut diapresiasi: terbentuknya Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama.
Kehadiran direktorat jenderal khusus ini adalah sinyal kuat. Negara jelas menempatkan pesantren sebagai bagian dari arus utama pembangunan nasional. Harapannya, dengan fokus kebijakan yang lebih terarah, kualitas pendidikan dan tata kelola pesantren bisa ditingkatkan secara lebih sistematis. Daya saingnya pun diharapkan makin kuat ke depannya.
Pesantren: Akar yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan
Sepanjang 2025, dinamika yang dihadapi pesantren tidak bisa dibilang sederhana. Ada yang masih berjuang mati-matian menjaga keberlangsungan, tapi tak sedikit pula yang mulai berani melangkah lebih jauh, menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.
Menurut data Kementerian Agama per 23 Oktober 2025, ada sekitar 2,5 juta santri terdaftar pada semester ganjil tahun ini. Angka itu bukan sekadar statistik belaka. Itu adalah potret nyata sebuah kekuatan sosial, kultural, bahkan ekonomi.
Pesantren hari ini sudah tak bisa lagi dibaca semata sebagai institusi pendidikan keagamaan. Ia adalah simpul komunitas yang hidup, penggerak ekonomi lokal, sekaligus penanam nilai-nilai yang kerap terpinggirkan dalam logika pembangunan modern.
Ketika Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional tak cukup bertumpu pada pertumbuhan ekonomi semata, melainkan pada pembangunan manusia yang kuat mental dan berkarakter, pesantren sejatinya sudah lama berada di jalur tersebut.
Dari sisi ekonomi, potensinya juga besar. Banyak pengalaman menunjukkan pesantren mampu jadi penggerak ekonomi di wilayah sekitarnya lewat koperasi, usaha produktif, sampai pengembangan ekosistem ekonomi halal.
Singkatnya, 2025 mengingatkan kita bahwa pesantren bukan cuma bagian dari masa lalu. Ia adalah aktor penting dalam menata masa depan.
Tantangan yang Tak Bisa Disederhanakan
Namun begitu, refleksi akhir tahun akan kehilangan makna kalau kita tidak berani jujur melihat persoalan. Di balik potensi besarnya, pesantren dan para alumninya masih menghadapi tantangan struktural yang nyata.
Pertama, kesenjangan kualitas antar-pesantren masih serius. Perbedaan kurikulum, kualitas pendidik, akses teknologi, dan pembiayaan membuat kemampuan mereka beradaptasi jadi tidak merata. Di era digital ini, ketimpangan itu berisiko melebar kalau tidak ditangani dengan baik.
Kedua, transisi alumni ke dunia kerja masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Modal karakter dan integritas yang kuat seringkali belum diimbangi keterampilan teknis atau literasi digital yang sesuai kebutuhan pasar.
Lalu, kemunculan banyak pesantren baru di satu sisi patut disyukuri. Tapi di sisi lain, ini memunculkan persaingan yang semakin ketat. Banyak pesantren justru mengalami penurunan jumlah santri dari tahun ke tahun. Fenomena ini butuh perhatian serius agar persaingan tidak berujung pada pelemahan kualitas.
Integrasi pesantren ke dalam ekosistem ekonomi nasional juga belum optimal. Mereka kerap berjalan sendiri, tanpa konektivitas kuat dengan dunia usaha, industri halal, atau perguruan tinggi. Alhasil, potensi besar itu seringkali belum jadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Dan yang tak kalah penting, persoalan kemandirian. Banyak pesantren belum mampu membangun kemandirian ekonomi untuk menopang operasional sehari-hari, apalagi pengembangan infrastruktur. Ketergantungan pada bantuan eksternal membuat mereka rentan dan sulit berkembang dalam jangka panjang.
Menjahit Harapan, Merancang Jalan ke Depan
Tapi refleksi sepanjang 2025 tentu tak boleh berhenti pada daftar tantangan. Ia harus jadi titik tolak untuk merancang langkah ke depan. Bagi kami di Santri Institute Indonesia, setahun terakhir ini adalah momentum awal untuk merajut ekosistem pesantren yang lebih terintegrasi dan berdampak jangka panjang.
Pertama, pembangunan SDM pesantren butuh satu desain besar yang menyatukan peran negara, pesantren, dunia usaha, dan kampus. Kolaborasi ini harus dirancang dengan sadar dan berkelanjutan, bukan sekadar proyek insidental.
Kedua, pesantren perlu didorong jadi pusat pengembangan talenta unggul sekaligus membangun identitas keunggulan masing-masing. Setiap pesantren harus menemukan ciri khasnya, entah di bidang keilmuan, kewirausahaan, teknologi, atau pertanian. Identitas ini penting agar mereka punya daya tarik yang jelas.
Ketiga, pengembangan SDM-nya harus dirancang sistematis dan berorientasi jangka panjang. Bukan proyek serampangan, melainkan investasi berkelanjutan dengan peta jalan yang jelas. Dengan begitu, pesantren bisa melahirkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tapi juga siap menciptakan lapangan kerja.
Keempat, pesantren perlu difasilitasi untuk membangun sentra-sentra ekonomi berbasis komunitas. Koperasi, usaha mikro, dan pengembangan industri halal berbasis pesantren harus jadi bagian dari strategi besar menuju kemandirian.
Peran pemerintah tetap krusial, terutama dalam pembinaan dan pendampingan. Penguatan sarana prasarana, kemudahan perizinan, standar keselamatan, hingga perlindungan sosial bagi para guru perlu jadi perhatian utama.
Alumni pesantren juga perlu dilibatkan secara aktif. Mereka bukan sekadar produk pendidikan, melainkan aset strategis bangsa yang bisa jadi jembatan antara pesantren dan sektor pembangunan lain.
Dan tentu, optimalisasi Direktorat Jenderal Pesantren di Kemenag harus terus diperkuat. Lembaga ini diharapkan tidak hanya berfungsi administratif, tapi menjadi motor penggerak kebijakan yang mampu menyatukan visi dan implementasi di lapangan.
Jika arah kebijakan ini dijaga konsisten, santri punya peluang besar menjadi salah satu pilar utama Indonesia Emas 2045.
Mereka bukan cuma pewaris nilai-nilai luhur. Tapi aktor pembangunan yang siap berkontribusi di ekonomi, sosial, dan ketahanan nasional. Pesantren, pada akhirnya, bukan sekadar warisan sejarah. Ia adalah investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Wallahu a'lam bish-shawab.
La Ode Safiul Akbar, MBA.
Ketua Umum Santri Institute Indonesia.
Artikel Terkait
Cekcok Parkir di Blok M Berujung Penusukan, Satu Tersangka Diamankan
Ghislaine Maxwell Hadapi Interogasi Tertutup Kongres AS Terkait Kasus Epstein
AHY Tunjuk Merry Riana Jadi Jurkam dan Jubir Demokrat, Langkah Awal Lewat Panitia Imlek
5 Pilihan Mobil Keluarga Bekas di Bawah Rp 50 Juta, dari Avanza hingga Kijang Kapsul