Dia lalu menjelaskan perbedaan halus yang sering terlupa. "Beda, lho. 'Menduduki jabatan' itu berarti saya pakai untuk kepentingan saya sendiri. Tapi 'memangku jabatan'? Itu artinya jabatan itu saya pangku, saya pelihara, untuk kebaikan banyak orang."
Namun begitu, sorotannya tak hanya pada para pejabat. Suharyo melihat perlu ada refleksi yang lebih luas. Dia mengingatkan kembali kerusuhan di Jakarta akhir Agustus lalu sebagai sebuah tanda. Saat itulah dia pertama kali menyuarakan gagasan yang kini diulanginya: bangsa ini butuh pertaubatan nasional.
Di momen Natal ini, ajakan itu kembali digaungkan. Bukan sekadar ritual, tapi sebuah gerakan batin untuk mengingat kembali fondasi negara.
"Semua pihak mesti bertobat," pungkas Suharyo dengan nada khidmat. "Mengembalikan cita-cita kemerdekaan kita yang terumuskan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD '45, itulah pertobatan nasional. Tapi dasarnya tetap dari dalam: pertobatan batin. Untuk memuliakan Allah dan membaktikan hidup."
Ajakan itu menggantung di udara, sebuah renungan berat di tengah gemerlap perayaan.
Artikel Terkait
Polisi Banten Ungkap Jaringan Prostitusi Daring di Cilegon, Korban Dipaksa Layani Belasan Pria Semalam
Warga Cibinong Amankan Dua Pria Diduga Hendak Ambil Sabu Tempelan
Prabowo Dorong Koperasi Desa Salurkan Kredit dengan Bunga 6% Per Tahun
Kejagung Hormati Usulan DPR untuk Tahanan Kasus Korupsi Video Profil Desa