Tim pencari kemudian menemukan puing-puing pesawat itu. Lokasinya di dekat desa Kesikkavak, di distrik Haymana yang berjarak sekitar 74 kilometer dari Ankara. Pemandangan di sana pastilah suram, hanya tersisa serpihan besi yang menandai akhir sebuah penerbangan.
Korban jiwa tidak hanya Jenderal Al-Haddad. Pesawat itu juga membawa komandan pasukan darat Libya, direktur otoritas manufaktur militer, seorang penasihat kepala staf, dan bahkan seorang fotografer dari kantor sang jenderal. Mereka semua ikut dalam penerbangan maut itu.
Reaksi dari pemerintah Libya pun datang. Perdana Menteri Abdulhamid Dbeibah menyampaikan duka yang mendalam.
"Kehilangan besar ini merupakan kehilangan besar bagi bangsa, bagi lembaga militer, dan bagi seluruh rakyat," katanya, seperti dilansir Reuters, Rabu (24/12/2025).
Ucapan itu menggambarkan betapa pukulan ini terasa berat. Bukan cuma bagi institusi, tapi bagi sebuah bangsa yang sedang berusaha bangkit.
Artikel Terkait
Mantan Danjen Kopassus Gugat Polda Metro Jaya Soal Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
BAPERA Bantah Ketum Fahd El Fouz Terkait Dugaan Pengeroyokan
Rano Karno: Perputaran Ekonomi Jakarta Capai Rp48 Triliun di Akhir Tahun
Herdman Puas dengan Persiapan Timnas Indonesia Jelang Final FIFA Series 2026