Rasa sedih dan kecewa diungkapkan anggota Komisi II DPR, Mardani Ali Sera, menyusul penangkapan Kepala Desa Sukadami, HM Kunang, yang terjerat kasus korupsi bersama anaknya sendiri, Bupati Bekasi nonaktif Ade Kuswara Kunang. Menurut Mardani, tindakan sang lurah itu jelas-jelas keliru.
"Pertama, ya sedih sih. Ade kan masih termasuk anak muda," ujar Mardani kepada para wartawan, Selasa (23/12/2025) lalu.
Ia melanjutkan, "Kedua, kalau benar ada permintaan duit dari pengusaha dan pejabat pemkab, ya itu salah besar. Sangat tidak pantas."
Bagi politisi itu, peran orang tua justru seharusnya melindungi anak dari perbuatan buruk. Alih-alih mengajak ke kubangan yang sama. Mardani menekankan, upaya pemberantasan korupsi sejatinya harus berawal dari dalam rumah tangga.
"Orang tua yang baik kan menjaga anaknya, bukan malah sebaliknya," tegasnya.
Ia menambahkan dengan nada prihatin, "Uang haram seperti itu nggak akan membawa manfaat. Cuma bakal melahirkan kemaksiatan dan kezaliman saja."
Kasus ini sendiri berawal dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada Kamis (18/12). HM Kunang diamankan, dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka bersama anaknya, Ade, serta seorang pengusaha bernama Sarjan. Mereka diduga terlibat dalam skema suap "ijon" proyek.
Menariknya, HM Kunang ternyata bukan pejabat tinggi. Dari situs resmi Pemkab Bekasi terlihat, pria itu 'hanya' menjabat sebagai Kepala Desa Sukadami di Cikarang Selatan. Namun, statusnya sebagai ayah bupati rupanya dimanfaatkan untuk meminta-minta uang.
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, membeberkan fakta di konferensi pers Sabtu (20/12). Total uang ijon yang mengalir dari pengusaha Sarjan ke Ade dan HM Kunang mencapai Rp 9,5 miliar. Penyerahannya dilakukan empat kali lewat perantara.
"HMK ini kadang meminta sendiri, nggak cuma ke SRJ (Sarjan), tapi juga ke berbagai SKPD di Bekasi," jelas Asep.
Ia menduga, permintaan itu dikabulkan lantaran orang-orang melihat hubungan darahnya dengan sang bupati.
"Jabatan dia kan kepala desa. Tapi ya, orang tahu dia bapaknya bupati. Jadilah dimanfaatkan, baik sebagai perantara maupun langsung meminta. Pendekatan ke bupati pun sering lewat dia," imbuh Asep menerangkan mekanisme yang terjadi.
Artikel Terkait
Dua Laga Krusial Wajib Dimenangkan Borneo dan Persebaya di BRI Super League
Israel Serang Gedung di Gaza, Klaim Fasilitas Militer Hamas
Prabowo Apresiasi MUI sebagai Pilar Stabilitas dan Kerukunan Bangsa
Taksi Listrik Tabrak Separator Busway di Ragunan, Diduga Sopir Mengantuk