Dari Dapur ke Pasar: Pendampingan Mekaar Kukuhkan Ibu Pengusaha Ultra Mikro

- Senin, 22 Desember 2025 | 22:50 WIB
Dari Dapur ke Pasar: Pendampingan Mekaar Kukuhkan Ibu Pengusaha Ultra Mikro

Hari Ibu selalu mengingatkan kita pada sosok luar biasa di balik keluarga. Mereka tak cuma mengurus rumah, tapi juga sering jadi tulang punggung ekonomi. Coba lihat, banyak ibu dari keluarga prasejahtera yang menjalankan usaha kecil. Mereka berjuang di tengah keterbatasan, memikul beban ganda: menggerakkan usaha sambil memastikan anak dan keluarga tetap terpenuhi.

Tantangannya nyata. Modal seret, akses pasar terbatas, dan pemahaman soal mengelola uang yang masih perlu diasah. Tapi, yang bikin kagum, banyak dari mereka pantang menyerah. Mereka bertahan, belajar pelan-pelan, demi menjaga agar usahanya tetap hidup dan bisa menghidupi.

Nah, kelompok ibu-ibu tangguh inilah yang coba dibina oleh program Mekaar dari PT PNM. Program ini menyasar pengusaha ultra mikro, yang mayoritas memang perempuan. Bantuan utamanya berupa pembiayaan tanpa agunan. Tapi, yang menarik, mereka tidak sekadar kasih pinjaman uang.

Menurut Sekretaris Perusahaan PNM, Dodot Patria Ary, kunci utamanya justru ada pada pendampingan.

"Kami hadir untuk melayani dan mendampingi ibu-ibu dalam menjalani usahanya. Pendampingan ini kami bangun agar para ibu tidak berjalan sendiri, punya ruang untuk belajar, dan percaya diri dalam mengambil keputusan usaha," jelas Dodot dalam keterangan tertulis, Senin (22/12/2025).

Jadi, pendekatannya lebih holistik. Para ibu nasabah didampingi secara rutin. Mereka diajak memahami cara mengatur keuangan sederhana, membaca peluang pasar, dan yang tak kalah penting, membangun kepercayaan diri. Hasilnya? Perlahan-lahan mulai terlihat.

Riset dari BRI Research Institute pada 2023 menunjukkan perubahan yang signifikan. Sebagian besar nasabah Mekaar mengalami peningkatan ketahanan keuangan. Dulu, tabungan mungkin cuma cukup untuk satu dua minggu kalau usaha sepi. Sekarang, tak sedikit yang mampu bertahan hingga satu atau dua bulan. Perubahan ini datang dari kebiasaan baru: mengatur pemasukan dengan lebih cermat, memilah prioritas belanja, dan menyisihkan dana dengan cara yang lebih terencana.

Di sisi lain, upaya penguatan terus digenjot lewat Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU). Di sini, para ibu dilatih soal literasi keuangan, manajemen usaha, hingga pemanfaatan digital. Bagi banyak peserta, ini pengalaman pertama mereka belajar mencatat transaksi, menyesuaikan produk dengan selera pasar, atau sekadar memanfaatkan media sosial untuk jualan.

Perspektif mereka pun jadi terbuka. Usaha yang biasanya dijalankan sekadarnya, mulai dilihat dengan cara yang lebih terstruktur untuk dikembangkan pelan-pelan.

Dalam semangat Hari Ibu, upaya pendampingan seperti ini sebenarnya bentuk apresiasi nyata. Perjuangan para ibu prasejahtera kerap tak terdengar gaungnya. Mereka bekerja keras di balik layar, menjalankan peran rangkap sebagai pengusaha dan penjaga ketahanan keluarga.

Intinya, dengan dukungan yang berkelanjutan, mereka diberi ruang untuk tumbuh. Ruang untuk lebih percaya diri, dan akhirnya, bisa melangkah lebih kuat. Baik itu di balik meja usaha, maupun di dalam rumah mereka sendiri.

Komentar