Laporan dari Kamboja mengagetkan. Mereka menuding Thailand baru saja melancarkan serangan udara di wilayahnya. Padahal, tak lama sebelumnya, Bangkok sendiri yang mengumumkan bahwa kedua negara sepakat mengadakan pembicaraan untuk menghentikan bentrokan-bentrokan mematikan itu.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Kamboja, militer Thailand dikerahkan untuk membombardir daerah-daerah di provinsi Siem Reap dan Preah Vihear. Serangan itu terjadi mulai pukul 16.18 waktu setempat. Yang jadi catatan, ini hanya berselang beberapa jam setelah pembicaraan krisis regional digelar di Malaysia.
"Pada pukul 16.18, militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk membombardir lebih jauh ke wilayah kedaulatan Kamboja di daerah O'Kontoeng, Komune Srae Nouy, distrik Varin, provinsi Siem Reap,"
demikian bunyi pernyataan kementerian tersebut.
Lokasi serangan ini cukup sensitif. Provinsi Siem Reap adalah rumah bagi kompleks candi Angkor yang legendaris, sebuah situs warisan UNESCO. Objek wisata utama mereka, Angkor Wat, letaknya cuma sekitar sejam perjalanan dari Srae Nouy yang dibombardir itu.
Bentrokan yang kembali berkobar bulan ini benar-benar telah menghancurkan gencatan senjata sebelumnya. Korban jiwa terus berjatuhan. Data dari para pejabat menyebut sedikitnya 23 orang tewas di Thailand dan 20 orang di Kamboja. Lebih dari 900.000 orang lainnya terpaksa mengungsi di kedua sisi perbatasan. Situasinya sungguh memilukan.
Di sisi lain, rencana perundingan justru sudah diumumkan. Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyampaikannya usai pertemuan di Kuala Lumpur dengan para mitra ASEAN, termasuk perwakilan dari Kamboja.
Sihasak mengatakan kepada wartawan bahwa diskusi akan diadakan pada Rabu (24/12) di Chanthaburi, Thailand selatan.
Pertemuan itu akan digelar dalam kerangka komite perbatasan bilateral yang sudah ada.
Menanggapi hal ini, Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyatakan mereka mencatat persiapan untuk pertemuan tersebut. Pihaknya pun disebut menyambut baik upaya-upaya regional untuk mengakhiri permusuhan. Tapi, dengan serangan udara yang baru terjadi, apakah jalan dialog ini masih bisa mulus? Semuanya jadi tanda tanya besar.
Artikel Terkait
Korlantas Tinjau Kesiapan Rest Area Tol Jelang Puncak Mudik Lebaran 2026
Presiden Prabowo Minta Maaf Tak Bisa Jemput PM Australia di Bandara
Satgas Pangan Perketat Pengawasan Harga dan Mutu Jelang Hari Besar Keagamaan
Pemerintah Kaji Cadangan Pangan Siap Santap untuk Tanggap Darurat Bencana