Dari Pangalengan ke Sekolah: Koperasi Susu Siap Jadi Tulang Punggung Program Makan Bergizi

- Senin, 22 Desember 2025 | 16:50 WIB
Dari Pangalengan ke Sekolah: Koperasi Susu Siap Jadi Tulang Punggung Program Makan Bergizi

Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan mendapat angin segar. Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, melalui Direktur Utamanya Krisdianto, menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan pembiayaan. Ini bukan tanpa alasan. Sebagai mitra, kinerja KPBS Pangalengan dinilai sangat baik.

“Mereka juga sudah punya mitra offtaker seperti Ultra Jaya dan Frisian Flag,” ujar Krisdianto, Senin (22/12/2025).

Tak hanya itu, koperasi ini juga terlibat dalam sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menariknya, koperasi ini pernah mendapat suntikan dana bergulir senilai Rp 15 miliar. Dan yang patut diacungi jempol, pinjaman itu sudah lunas dibayar.

Ke depannya, harapannya KPBS Pangalengan bisa jadi pemasok utama untuk Koperasi Desa Merah Putih, khususnya untuk berbagai produk susu olahan.

Di sisi lain, dukungan juga datang dari Menteri Koperasi Ferry Juliantono. Dia berjanji bakal mendukung penuh langkah KPBS Pangalengan untuk masuk ke sektor Industri Pengolahan Susu (IPS). Bukan cuma produksi susu pasteurisasi, tapi Ferry mendorong produksi susu UHT.

“Saya berharap teknologi pasteurisasi disini bisa dikembangkan dengan membangun line pabrik baru untuk memproduksi susu UHT,” kata Ferry.

Dengan begitu, peran koperasi dalam ekosistem program MBG diyakini akan makin meluas.

Dalam sebuah kesempatan, Ferry menyaksikan langsung penandatanganan dua kerja sama penting. Pertama, antara KPBS Pangalengan dengan SPPG Jayabaya 2 untuk pengadaan susu pasteurisasi dalam program MBG. Kedua, kerja sama dengan Kopdes Merah Putih Margamulya terkait pelatihan koperasi.

Ferry meyakinkan, produk susu UHT dan pasteurisasi dari Pangalengan nantinya akan dijual di seluruh gerai Kopdes Merah Putih di Indonesia.

“Untuk keperluan industri UHT ini, saya juga pastikan LPDB Koperasi siap membantu bila KPBS Pangalengan membutuhkan tambahan pembiayaan,” ungkapnya.

Pernyataannya kemudian mengerucut pada isu yang lebih luas. Selama ini, industri pengolahan susu dalam negeri masih bergantung pada impor susu bubuk skim. Aturan yang dulu memperbolehkannya, kata Ferry, kini sudah tidak berlaku lagi.

“Bila koperasi mampu membangun industri pengolahan susu, maka akan menyerap produk susu dari peternak sapi perah kita,” tegasnya.

“Saya pastikan impor susu bubuk skim akan kita larang, karena itu akan mematikan para peternak sapi perah.”

Bahkan, menurutnya, Indonesia harus serius menambah populasi sapi perah. Dia berjanji akan mendukung program pemerintah untuk itu, sekaligus mengadvokasi penghambatan impor susu bubuk skim.

Ferry pun mendorong agar koperasi peternak bisa setara dengan perusahaan swasta, termasuk dalam kemampuan memproduksi susu bubuk sendiri.

“Kita jangan mau kalah bersaing dengan yang punya swasta, agar dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat,” ucapnya.

Kaitannya dengan program MBG, Ferry punya visi besar. Dia ingin SPPG di seluruh Indonesia membangun rantai pasok yang bersumber dari koperasi, terutama Kopdes Merah Putih.

“Bukan hanya susu, tapi juga sayur-sayurannya juga nanti akan disuplai koperasi petani sayur dan lain sebagainya,” paparnya.

“Jadi, tujuan kita memang membangun ekosistem koperasi untuk mensuplai kebutuhan dari SPPG dalam program MBG.”

Menurut Ferry, semua ini harus berlandaskan kualitas. Sertifikasi susu adalah fondasi utama. Sebab, susu adalah produk pangan strategis yang berdampak langsung pada kesehatan, khususnya anak-anak.

“Oleh karena itu, pemenuhan standar mutu dan keamanan pangan, serta sertifikasi dari hulu hingga hilir, harus menjadi perhatian utama koperasi,” jelasnya.

Peran kolektif koperasi, tegas Ferry, adalah kunci sukses program MBG. Koperasi produsen susu harus mampu menyediakan susu yang aman, terstandar, dan tersertifikasi, dengan distribusi yang tertib.

“Suplai untuk MBG tidak hanya menuntut ketersediaan produk,” papar Ferry.

“Tetapi juga kesiapan koperasi dalam tata kelola, pencatatan, ketelusuran, dan manajemen rantai pasok. Di sinilah koperasi diuji untuk naik kelas.”

Sementara dari sisi KPBS Pangalengan sendiri, Ketuanya Aun Gunawan membeberkan fakta-fakta yang cukup solid. Koperasi yang berdiri sejak 1969 ini kini punya lebih dari 4.500 anggota.

Populasi sapinya mencapai 16 ribu ekor, dengan produksi susu segar yang bisa menyentuh 80 ton per hari.

Untuk mendukung semua itu, mereka mengoperasikan 28 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK) yang terintegrasi penuh dengan sistem ERP. Delapan di antaranya sudah dilengkapi sistem pendingin susu, yang membuat proses dari peternakan ke pabrik pengolahan jadi lebih efisien.

“Mulai dari pengumpulan susu di tingkat peternakan hingga pengiriman ke industri pengolahan susu,” kata Aun.

Saat ini, KPBS Pangalengan sudah memasok susu ke 50 SPPG dalam program MBG. Caranya pun unik.

“Tapi, susu kita tidak didrop ke SPPG, tapi langsung ke sekolah bersamaan waktu dengan SPPG. Kita siapkan sekitar 700 ribu cup per bulan,” pungkas Aun.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar