Kunjungan Senator AS Lindsey Graham ke Israel pada Minggu (21/12) lalu diwarnai pernyataan keras. Dia secara terbuka mendesak aksi militer terhadap Hamas dan Hizbullah. Syaratnya satu: jika kedua kelompok yang didukung Iran itu menolak untuk meletakkan senjata mereka.
Graham, yang dikenal sebagai sekutu dekat Donald Trump, tak tanggung-tanggung. Dia bahkan akan mendorong mantan presiden itu untuk bertindak.
"Saya akan mendorong Presiden Trump untuk mengerahkan Israel menghabisi Hamas," ujarnya tegas dalam sebuah konferensi pers.
Pernyataannya itu langsung mencuat ke berbagai media internasional, termasuk AFP dan Al Arabiya, keesokan harinya. Senator dari South Carolina ini punya alasan sendiri. Dia menuduh Hamas sedang berusaha mengkonsolidasikan kekuasaannya lagi di Jalur Gaza. Padahal, situasi di sana sebenarnya masih rapuh.
Memang, gencatan senjata yang mulai berlaku Oktober lalu telah menghentikan pertempuran sengit yang berlangsung dua tahun. Tapi ya itu, gencatan ini ibarat kaca tipis. Kedua belah pihak masih saling tuding soal pelanggaran.
Di front utara, ceritanya mirip. Gencatan terpisah dengan Hizbullah di Lebanon mulai berlaku November 2024, setelah lebih dari setahun permusuhan. Namun begitu, serangan Israel ke wilayah Lebanon masih terus terjadi. Tel Aviv bilang mereka menarget posisi-posisi Hizbullah.
Artikel Terkait
Pengacara Bantah Kliennya Hadiri Pertemuan dengan Google, Sebut Sedang Wawancara di London
Rokan Hilir Resmikan Mal Pelayanan Publik 24 Jam, Targetkan Birokrasi Bebas Belit
Hakim PTA Kupang Dipecat Usai Tipu Belasan Orang dengan Janji Palsu CPNS
Pekanbaru Tanamkan Cinta Lingkungan Lewat Pendidikan Sekolah