Harapannya sederhana: sampah segera diangkut. Ia kecewa karena yang dilakukan hanya menutupinya. "Seharusnya tadi kan ditaruh (ke) karung, langsung naikin ke mobil. Ternyata cuman ditutup terpal. Kan belum jelas ya," keluhnya.
Ia menggambarkan kondisi yang paradoks. "Hari ini baunya nggak ada, lalatnya pada keluar." Rita hanya ingin lapaknya bersih kembali seperti dulu. "Harapannya ya bersih lagi kayak semula lagi, ya," tuturnya.
Di sisi lain, warga lain bernama Rosyid punya kekhawatiran yang lebih luas. Ia berharap kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan ini bisa dihentikan. Baginya, ini soal nama baik.
Sampah ini kan salah satu, yang pertama saya bilang tadi aib. Yang buangnya siapa? Entar yang dicaci makinya siapa? Ya kan. Kita selesaikan bersama, damai, ya.
Rosyid lalu menambahkan, "Makanya, maaf, warga Ciputat jangan buang sampah sembarangan supaya Ciputat itu sehat dan bersih dan lancar."
Ia juga berharap pemerintah bisa bergerak lebih cepat. Respons yang lambat hanya akan memperburuk keadaan. "Pemerintah harus refleks lah. Harus cepat-cepat dibersihkan. Supaya tidak meluas," tegas Rosyid.
Narasi dari dua warga ini menggambarkan satu hal: solusi instan seperti terpal tidak akan pernah cukup. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata dan kesadaran bersama. Kalau tidak, bau masalah ini akan terus tercium, jauh lebih menyengat dari bau sampah itu sendiri.
Artikel Terkait
Iran Akui Ali Larijani, Pejabat Keamanan Senior, Tewas dalam Serangan Israel
Pemudik Rela Begadang Demi Tiket Kereta di Puncak Arus Mudik Lebaran
KBRI Kuala Lumpur Tutup Sementara untuk Libur Nyepi dan Idul Fitri
Menteri Perhubungan Blusukan ke Pelabuhan Merak, Pastikan Kesiapan H-3 Arus Mudik