"Kita tidak boleh ada sekat-sekat, teman-teman. Jangan karena perbedaan agama atau aliran membuat kita itu berbeda," tegasnya.
"Sebuah lukisan yang indah, tidak ada artinya bingkainya emas kalau lukisannya tidak indah. Apa arti sebuah bingkai? yang penting lukisannya sangat indah."
Kembali ke acara inti, perayaan di SUGBK sendiri sudah dimulai sejak pukul enam kurang beberapa menit. Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme jemaat yang luar biasa. Lapangan hijau biasanya tempat para atlet berlari, kini dipenuhi oleh umat yang hendak memuji Tuhan. Tribun pun tak luput dari kepadatan.
Yang menarik, gelombang semangat itu ternyata meluap. Banyak jemaat yang rela berdesakan di luar stadion, menyaksikan jalannya ibadah melalui layar-layar besar yang dipasang panitia. Meski tak mendapat tempat di dalam, mereka tetap khusyuk. Wajah-wajah penuh sukacita tetap terpancar jelas di bawah langit Jakarta yang sudah gelap.
Malam itu, di Senayan, bukan hanya sebuah perayaan keagamaan yang berlangsung. Tapi juga sebuah potret nyata tentang bagaimana kebersamaan, dalam segala perbedaannya, bisa dirayakan dengan penuh khidmat dan kegembiraan.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran Dominan ke Timur, Jasa Marga Catat 1,1 Juta Kendaraan Keluar Jabodetabek
Pemerintah Salurkan Rp72,75 Miliar untuk Tradisi Meugang Korban Banjir Aceh
Asing Borong Saham Emas dan Batu Bara Meski IHSG Tertekan
Ahli Ingatkan Pentingnya Persiapan Fisik untuk Mudik Lebaran 2026