Tembok Sekolah di Palmerah Ambruk, Akses Warga Terputus dan Empat Motor Tertimbun

- Sabtu, 22 November 2025 | 00:10 WIB
Tembok Sekolah di Palmerah Ambruk, Akses Warga Terputus dan Empat Motor Tertimbun
Insiden Tembok Roboh di Palmerah

Sebuah tembok pembatas setinggi tiga meter yang memisahkan SDN 01, SDN 02, dan SMPN 130 di Kelurahan Kota Bambu Utara, Palmerah, tiba-tiba ambruk pada Rabu (20/11). Reruntuhannya tak cuma menghalangi jalan warga, tapi juga memicu kekhawatiran. Polisi pun turun tangan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.

"Sampai sekarang masih kita lidik," ujar Kapolsek Palmerah, Kompol Gomos Simamora, ketika dikonfirmasi via telepon pada Jumat (21/11/2025).

Di lokasi, garis polisi sudah dipasang mengelilingi area reruntuhan. Langkah ini dilakukan untuk kepentingan olah TKP. Gomos menambahkan, timnya telah menyelesaikan Tindakan Pertama di Tempat Kejadian Peristiwa (TPTKP).

Soal penyebab pastinya, polisi masih menutup rapat. "Masih dilidik. Nanti akan disampaikan 'update'-nya," katanya singkat.

Di sisi lain, warga setempat punya dugaan sendiri. Heni (55), salah seorang warga RT 13, meyakini struktur tembok tak kuat menahan tekanan tanah galian dari proyek renovasi sekolah yang sedang berjalan. Apalagi, dua hari sebelumnya hujan deras mengguyur kawasan itu.

"Dua hari kemarin kan hujan deras, ditambah lagi ada pengeboran bikin fondasi sekolahan. Jadi kan tambah padat (tanah galian proyek yang menumpuk di balik tembok). Makanya roboh," tutur Heni saat ditemui di lokasi kejadian.

Untungnya, tak ada korban jiwa atau luka-luka dalam insiden ini. Menurut Heni, saat tembok roboh, sejumlah anak justru sedang menuju tempat salat dan lolos karena ada gang kecil yang mereka lalui. "Alhamdulillah enggak ada korban," ujarnya lega.

Meski begitu, empat unit sepeda motor tertimbun reruntuhan dan hingga kini belum bisa dievakuasi. Akses menuju dua rumah warga yang persis di depan tembok juga terputus sama sekali.

Tak cuma itu, robohan tembok ikut menarik kabel listrik hingga nyaris setinggi orang dewasa. Meski bangunan rumah tak rusak parah, penghuninya diminta untuk tidak dulu masuk ke dalam demi keamanan.

Di dalam lingkungan sekolah, pemandangan tak kalah memprihatinkan. Tanah bekas galian yang berubah menjadi lumpur menumpuk hampir setinggi tembok yang ambruk.

Sementara proyek renovasi sekolah masih berlanjut. Beberapa kendaraan proyek terlihat hilir mudur memasuki area. Yang mengkhawatirkan, bagian tembok lain yang masih berdiri tampak miring dan rapuh. Petugas mengimbau warga, terutama anak-anak, untuk menjauhi lokasi. Garis polisi sengaja dipasang mengitari area untuk mencegah warga melintas dan menghindari kemungkinan insiden serupa terulang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar