Industri kriminal ini diperkirakan menghasilkan keuntungan ilegal senilai puluhan miliar dolar AS setiap tahunnya. Selama ini, junta militer kerap dituding melakukan pembiaran terhadap operasi tersebut.
Namun, gelombang penindakan mulai terlihat sejak Februari tahun lalu. Analis menilai perubahan sikap ini tidak terlepas dari tekanan diplomatik China, sekutu utama junta Myanmar. Beijing diketahui sangat serius menangani kasus-kasus penipuan digital yang kerap menyasar warganya.
Manuver Politik atau Komitmen Hukum?
Beberapa pengamat independen menilai operasi penggerebekan yang intensif dalam beberapa bulan terakhir merupakan bagian dari strategi propaganda junta. Tindakan ini dinilai sebagai upaya untuk meredam tekanan internasional, khususnya dari China, tanpa benar-benar mengganggu aliran pendapatan ilegal yang dinikmati sekutu-sekutu militer di wilayah perbatasan.
Meskipun demikian, operasi terbaru di Shwe Kokko ini menandai eskalasi signifikan dalam penanganan kasus kejahatan siber terorganisir di Myanmar. Junta militer tampaknya berusaha menampilkan citra komitmen terhadap penegakan hukum di tengah isolasi internasional yang mereka hadapi.
Artikel Terkait
Piton Raksasa Telan Kambing Hidup-Hidup, Warga Buton Buru dan Tumpas
Semeru Muntahkan Awan Panas Sejauh 5 Kilometer, Status Tetap Siaga
Korban Dibawah Umur Ditemukan Berlumur Lumpur Usai Diduga Diperkosa Teman di Sekadau
Cinta 10 Tahun Berakhir Tragis, Rumah Mantan Kekasih Dibakar di Tulungagung