Industri kriminal ini diperkirakan menghasilkan keuntungan ilegal senilai puluhan miliar dolar AS setiap tahunnya. Selama ini, junta militer kerap dituding melakukan pembiaran terhadap operasi tersebut.
Namun, gelombang penindakan mulai terlihat sejak Februari tahun lalu. Analis menilai perubahan sikap ini tidak terlepas dari tekanan diplomatik China, sekutu utama junta Myanmar. Beijing diketahui sangat serius menangani kasus-kasus penipuan digital yang kerap menyasar warganya.
Manuver Politik atau Komitmen Hukum?
Beberapa pengamat independen menilai operasi penggerebekan yang intensif dalam beberapa bulan terakhir merupakan bagian dari strategi propaganda junta. Tindakan ini dinilai sebagai upaya untuk meredam tekanan internasional, khususnya dari China, tanpa benar-benar mengganggu aliran pendapatan ilegal yang dinikmati sekutu-sekutu militer di wilayah perbatasan.
Meskipun demikian, operasi terbaru di Shwe Kokko ini menandai eskalasi signifikan dalam penanganan kasus kejahatan siber terorganisir di Myanmar. Junta militer tampaknya berusaha menampilkan citra komitmen terhadap penegakan hukum di tengah isolasi internasional yang mereka hadapi.
Artikel Terkait
NTT Tegaskan Komitmen Sebagai Tuan Rumah Inti PON 2028
Jadwal Buka Puasa Jakarta dan Kepulauan Seribu Hari Ini, Sabtu 28 Februari 2026
Ibas Soroti Perlindungan Kesehatan bagi Pelaku UMKM dalam Sistem JKN
Dokter Ayu Widyaningrum Raih Tiga Rekor MURI Baru dari Prestasi Medis dan Aksi Sosial