Kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke Washington ini menjadi kunjungan pertamanya sejak terjadinya insiden pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018 yang sempat mengganggu hubungan bilateral. Intelijen AS sebelumnya menyatakan MBS mengetahui rencana pembunuhan tersebut, meski otoritas Riyadh membantah tuduhan itu.
Trump tampil membela mitra strategisnya itu dengan menyatakan keyakinannya bahwa Putra Mahkota Saudi "tidak mengetahui apapun" mengenai kasus Khashoggi. Pernyataan ini menandai upaya normalisasi hubungan yang sempat mengalami ketegangan dalam beberapa tahun terakhir.
Secara hukum AS, status MNNA memberikan keistimewaan tertentu dalam bidang perdagangan pertahanan dan kerja sama keamanan, meski tidak mencakup komitmen pertahanan otomatis seperti yang berlaku di pakta NATO. Dengan penetapan ini, Arab Saudi kini bergabung dengan negara-negara Timur Tengah lain yang telah lebih dulu menyandang status serupa, termasuk Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Israel.
Kebijakan ini dipandang sebagai penguatan aliansi strategis AS di kawasan Timur Tengah dan menunjukkan komitmen berkelanjutan Washington terhadap stabilitas keamanan regional, sekaligus menandai babak baru dalam hubungan diplomatik AS-Arab Saudi pasca periode ketegangan.
Artikel Terkait
Iran Umumkan 108 Korban Jiwa Serangan di Sekolah Dasar, Tuding Israel dan AS
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Jabodetabek Hari Ini
Pria di Tanjungpinang Diduga Bunuh dan Mutilasi Istrinya Sendiri
Liverpool Hancurkan West Ham 5-2, Kokoh di Posisi Kelima Klasemen