Kabel Juntai di Jalan Anggrek II Akhirnya Dirapikan, Warga Minta Solusi Menyeluruh
Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan telah menyelesaikan pekerjaan perapihan kabel yang menjuntai di kawasan Jalan Anggrek II, Kelurahan Kuningan, Setiabudi. Meski kondisi terlihat lebih rapi, warga setempat terus mendesak pemerintah untuk melakukan perbaikan menyeluruh terhadap jaringan utilitas yang semrawut demi keamanan dan kenyamanan.
Kendala dalam Penataan Jaringan Utilitas
Kepala Sudin Bina Marga Jakarta Selatan, Rifki Rismal, mengungkapkan bahwa proses penataan jaringan utilitas kerap menemui sejumlah kendala. Tantangan tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga melibatkan keluhan dari masyarakat sekitar.
Rifki menjelaskan bahwa solusi jangka panjang untuk masalah ini adalah dengan pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu atau SJUT. Proyek ini bertujuan untuk memindahkan semua kabel yang terlihat berantakan ke dalam saluran terpadu, sehingga tampilan jalan menjadi lebih tertata.
Otoritas Pembangunan SJUT di Jakarta Selatan
Pembangunan infrastruktur SJUT di wilayah Jakarta Selatan, menurut Rifki, berada di bawah kewenangan PT. Jakarta Propertindo (Jakpro) berdasarkan Peraturan Gubernur yang berlaku. Meskipun demikian, Sudin Bina Marga sendiri telah membangun beberapa SJUT, seperti yang terletak di Jalan Gatot Soebroto.
Rifki menegaskan komitmennya untuk segera menangani laporan serupa di masa depan. "Jika ada kejadian kabel menjuntai lagi, tim kami akan langsung turun ke lapangan. Tugas Bina Marga adalah merapikan kabel-kabel milik pihak ketiga, sebagian besar untuk kepentingan komersial, dengan cara mengepangnya," jelas Rifki.
Kondisi Terkini dan Kekhawatiran Warga
Di lokasi kejadian, kabel-kabel yang sebelumnya menjuntai kini telah ditopang dengan penambahan tiang besi di bagian tengah dan diikat untuk mencegahnya terurai kembali. Namun, tumpukan kabel di RT 10/RW 2 tersebut masih terlihat tidak rapi dan menyebabkan tiang listrik terlihat sedikit miring.
Ramdani, seorang warga berusia 50 tahun yang rumahnya persis berada di bawah tumpukan kabel, membenarkan bahwa perbaikan baru dilakukan pada Kamis malam. Sebelumnya, kabel tersebut menjuntai sangat rendah hingga hampir menyentuh tanah dan mengganggu lalu lintas pejalan kaki.
"Selama dua minggu kabelnya jatuh ke bawah. Orang lewat harus menunduk. Pemicunya adalah mobil pengangkut material yang tersangkut dan menarik kabel hingga membuat tiangnya doyong," cerita Ramdani.
Kekhawatiran terbesar warga adalah risiko keamanan. Ramdani menyatakan ketakutannya akan terjadinya korsleting listrik yang dapat memicu kebakaran atau bahkan ledakan. Ia berharap ada perbaikan yang lebih permanen karena tinggi kabel saat ini dinilai masih terlalu rendah dan berpotensi tersangkut kembali oleh kendaraan yang lewat.
Artikel Terkait
Pegadaian Raih Dua Penghargaan Bergengsi untuk Transformasi dan Inklusi Keuangan
Kolaborasi dengan PT Semen Tonasa Dongkrak Pembangunan Jalan di Bulu Cindea
Gubernur Jateng: Kolaborasi dengan Kampus Kunci Capaian Ekonomi dan Investasi 2025
Mahkamah Agung AS Batalkan Kebijakan Tarif Global Trump, Status Kesepakatan Dagang RI-AS Dipertanyakan