Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Khusus Jakarta, Pamuji Raharja, menyampaikan bahwa dari keduanya disita sejumlah barang bukti. Barang bukti yang berhasil diamankan termasuk dua paspor Uzbekistan, alat kontrasepsi, uang tunai senilai Rp 30 juta, serta dua unit telepon genggam.
Dalam ponsel tersebut, ditemukan riwayat percakapan elektronik yang berisi transaksi prostitusi online. Kedua tersangka menawarkan tarif yang sangat tinggi, yaitu sebesar 900 Dolar AS atau setara dengan Rp 15 juta untuk sekali kencan.
Peran Penghubung dan Pengejaran Muncikari
Dalam praktiknya, SS dan KD mengaku dibantu oleh seorang lain yang berperan sebagai penghubung (muncikari) antara mereka dengan calon klien. Orang tersebut berinisial L dan saat ini masih dalam pengejaran dan penyelidikan lebih lanjut oleh petugas imigrasi untuk menangkapnya.
Kasus ini menjadi sorotan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap penyalahgunaan visa wisata untuk kegiatan yang melanggar hukum di Indonesia. Imigrasi terus memperketat pengawasan terhadap aktivitas WNA selama berada di wilayah Indonesia.
Artikel Terkait
Normalisasi Sungai Cirarab Ditargetkan Rampung Akhir Maret 2026
Vonis Kasus Korupsi Minyak Rp 285 Triliun Dijadwalkan Kamis Depan
Program Makan Bergizi di Serang Berlanjut, Siswa Terima Paket Bahan Makanan untuk Buka Puasa
Dua Belas Tokoh Elite Daftar sebagai Amicus Curiae Dukung Enam Terdakwa Korupsi Minyak