Mengenal "14 Words" dan Tokoh Neo-Nazi di Balik Insiden SMAN 72 Jakarta
Senjata mainan yang dibawa terduga pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta Utara menjadi sorotan setelah ditemukan tulisan-tulisan terkait gerakan Neo-Nazi. Simbol dan nama yang teridentifikasi mengarah pada jaringan supremasi kulit putih internasional.
Makna "14 Words" dan Kaitannya dengan David Lane
Salah satu tulisan mencolok adalah frasa "14 Words" yang merupakan slogan rasis:
"Kita harus mengamankan keberadaan orang-orang kita dan masa depan untuk anak-anak kulit putih."
Frasa ini diciptakan oleh David Lane, teroris Amerika Serikat anggota organisasi The Order yang terlibat berbagai kejahatan pada 1980-an. Lane meninggal dunia selama menjalani hukuman penjara seumur hidup.
Tokoh Neo-Nazi yang Muncul pada Senjata Mainan
1. Brenton Tarrant - Pelaku Penembakan Christchurch
Teroris asal Selandia Baru ini melakukan penembakan masjid Christchurch tahun 2019 yang menewaskan 51 orang. Tarrant dikenal sebagai supremasi kulit putih dan menyiarkan aksinya secara langsung melalui Facebook. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
2. Alexandre Bissonnette - Penyerang Masjid Quebec
Pemuda berusia 27 tahun ini membunuh enam orang dan melukai 19 lainnya di masjid Quebec, Kanada tahun 2017. Bissonnette dikenal mendukung gerakan ekstremis kanan dan organisasi supremasi kulit putih "Génération Nationale".
3. Luca Traini - Penembak di Macerata, Italia
Traini menembaki imigran kulit hitam di kota Macerata tahun 2018, melukai enam orang. Polisi menemukan barang-barang berbau Nazi di rumahnya, termasuk buku "Mein Kampf" dan bendera salib Celtic. Ia pernah menjadi kandidat partai sayap kanan Liga Utara.
Sejarah Gerakan Supremasi Kulit Putih dan Neo-Nazi
Gerakan supremasi kulit putih percaya bahwa ras kulit putih lebih superior dari ras lainnya. Paham ini mengemuka sebagai gerakan terorganisir di Amerika Serikat melalui organisasi The Order (Silent Brotherhood) yang didirikan Robert Jay Mathews tahun 1983.
Meski The Order telah bubar, ideologi supremasi kulit putih tetap bertahan dalam bentuk Neo-Nazi. Data dari Anti-Defamation League (ADL) menunjukkan peningkatan propaganda supremasi kulit putih sebanyak 182% pada tahun 2018 dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut sosiolog Universitas Dayton, munculnya gerakan ini erat kaitannya dengan kekhawatiran terhadap perubahan demografis dan kedatangan imigran yang dianggap mengancam eksistensi ras kulit putih.
Artikel Terkait
Manchester City Kalahkan Liverpool 2-1 Berkat Gol Telat Haaland
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick
Moodys Tegaskan Peringkat Baa2 Indonesia, Pemerhatan Soroti Ketahanan Ekonomi
Anggota DPR Soroti Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza: Perlu Kajian Teknis dan Perhatikan Beban APBN