Operasi Water Bombing Karhutla Sumsel Resmi Berakhir, Beralih ke Pemantauan Darat

- Rabu, 05 November 2025 | 20:36 WIB
Operasi Water Bombing Karhutla Sumsel Resmi Berakhir, Beralih ke Pemantauan Darat

Operasi Udara Karhutla Sumsel Resmi Berakhir, Beralih ke Pemantauan Darat

Palembang - Operasi udara untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) secara resmi telah berakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel menuntaskan misi terakhir helikopter water bombing dan patroli pada Rabu, 5 November 2025.

Penyebab Penghentian Operasi Water Bombing

Penghentian misi penanganan karhutla ini dilakukan setelah curah hujan di wilayah Sumsel mulai meningkat dan titik panas (hotspot) mengalami penurunan signifikan. Selama masa penanganan karhutla, provinsi ini didukung tujuh helikopter water bombing serta dua helikopter patroli dari pemerintah pusat.

Pernyataan Resmi BPBD Sumsel

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengonfirmasi bahwa hari ini menjadi misi terakhir helikopter water bombing. Keputusan penghentian operasi mengikuti arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup, hingga BMKG, seiring peralihan musim kering ke musim hujan.

Status Kewaspadaan Tetap Berlaku

Meski operasi udara dihentikan, status kewaspadaan karhutla tetap berlaku. Titik panas masih muncul secara sporadis, terutama di wilayah peralihan cuaca. "Masih ada hotspot, tapi bisa diatasi. Curah hujan turut membantu tim di lapangan," jelas Sudirman.

Perubahan Strategi Penanganan Karhutla

Helikopter dipastikan akan ditarik secara bertahap sembari menunggu instruksi lanjutan dari BNPB. Pergeseran fokus kini diarahkan pada penguatan pemantauan darat dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi perubahan cuaca ekstrem di Sumsel.

Peringatan BNPB untuk Masa Depan

BNPB sebelumnya mengingatkan bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir, terlebih dengan potensi kembali munculnya siklus El Niño pada akhir 2026 hingga 2027. Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, meminta publik tetap waspada dan adaptif terhadap dinamika iklim.

"Cuaca bisa berubah cepat. Masyarakat perlu selalu memperhatikan kondisi hujan, angin kencang, atau potensi cuaca ekstrem lainnya," kata Abdul Muhari menegaskan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar