Lelah dalam ketaatan tidak akan sia-sia. Setiap langkah menuju Allah, meski terasa berat, menyisakan sesuatu yang tak pernah hilang: pahala.
Kelelahan bangun sebelum fajar sirna bersama embun pagi. Rasa lapar saat berpuasa lenyap begitu matahari tenggelam. Beratnya menjaga pandangan, menahan lisan, mengendalikan amarah, dan melawan hawa nafsu suatu hari hanya akan menjadi kenangan. Namun, pahala dari semua itu tetap tercatat, meski tubuh telah renta dan dunia telah melupakan. Bahkan ketika pemiliknya telah terbaring di bawah tanah, amal itu datang sebagai cahaya yang menemani kesendirian.
Sebaliknya, maksiat selalu pandai menyamar sebagai kenikmatan. Ia menawarkan tawa yang singkat, kesenangan yang sebentar, dan kepuasan yang cepat berlalu. Begitu selesai, yang tersisa sering kali hanyalah penyesalan. Nikmatnya telah pergi, tetapi catatannya belum dihapus. Betapa sering manusia rela menukar keabadian dengan kesenangan yang hanya sekejap, seolah-olah beberapa menit kenikmatan lebih berharga daripada keselamatan yang tidak bertepi.
Karena itu, jangan takut lelah dalam ketaatan. Takutlah kepada hari ketika kita mencari satu kebaikan, tetapi tidak lagi menemukan kesempatan untuk mengerjakannya.
Syekh Ali al-Tantawi, sebagaimana dinukil dalam Min Hadīts an-Nafs, mengingatkan, "Rasa lelah dalam ketaatan akan hilang, sedangkan pahalanya akan tetap abadi. Dan kelezatan maksiat akan sirna, sedangkan dosanya akan tetap tinggal."
Maka, jika hari ini terasa berat untuk taat, bersabarlah. Yang berat hanyalah perjalanan, bukan hasilnya. Sebab di hadapan Allah, yang kekal bukanlah lelahmu, melainkan balasan atas kesabaranmu.