Setidaknya dua presiden Indonesia, BJ Habibie dan Megawati Soekarnoputri, pernah berhasil mengembalikan kondisi keuangan negara menjadi lebih baik dalam waktu relatif singkat. Prestasi itu kontras dengan situasi saat ini di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang belum menunjukkan tanda-tanda penguatan rupiah.
Habibie mewarisi kekacauan krisis moneter 1998 dari Soeharto, saat rupiah terpuruk hingga Rp16.000 per dolar AS. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, ia berhasil memperkuat rupiah menjadi Rp6.000 per dolar AS.
Megawati menghadapi situasi serupa. Ia mewarisi perekonomian yang kacau dari era Gus Dur, yang kembali membuat rupiah terpuruk ke Rp10.400 per dolar AS setelah sempat berada di Rp6.000. Megawati kemudian berhasil menguatkan rupiah menjadi Rp8.500 per dolar AS.
Baik Habibie maupun Megawati mencapai hasil tersebut dalam waktu sekitar 1,5 tahun. Kini, Prabowo sudah mendekati tahun kedua sebagai presiden, namun belum terlihat tanda-tanda rupiah kembali menguat seperti pada masa Susilo Bambang Yudhoyono.
Pertanyaannya, apakah karena tidak efisiensi anggaran atau karena saking parahnya kekacauan ekonomi yang diwariskan dari Jokowi? Atau, seperti yang disindir sebagian pihak, ini sebetulnya masih era Jokowi periode ketiga, di mana ia bergerak lewat orang-orangnya di kabinet Prabowo.
Artikel Terkait
Uang Lusuh Jadi Sasaran Empuk Pemalsuan, Begini Cara Melindungi Rupiah
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah
IHSG Dibuka Menguat ke 6.056,75, Rupiah Stabil di Rp18.059
Rupiah Menguat ke Rp18.068 per Dolar AS di Tengah Eskalasi Konflik Iran-AS