Peraih Nobel Kimia 2025 Omar Yaghi Tinggalkan AS, Pimpin Institut Riset AI di China

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:20 WIB
Peraih Nobel Kimia 2025 Omar Yaghi Tinggalkan AS, Pimpin Institut Riset AI di China

Dr. Omar Yaghi, peraih Nobel Kimia 2025, resmi meninggalkan University of California, Berkeley untuk memimpin lembaga riset berbasis kecerdasan buatan (AI) di Tsinghua University, Beijing, China. Kepindahan ilmuwan terkemuka ini menjadi sorotan besar karena merefleksikan perubahan peta kompetisi sains global antara Amerika Serikat dan China.

Dr. Omar M. Yaghi adalah seorang imigran Muslim keturunan Palestina yang lahir di Yordania. Ia dikenal sebagai ilmuwan lintas negara berpaspor Palestina-Yordania-Amerika Serikat, dan pada tahun 2021 juga mendapat kewarganegaraan kehormatan dari Arab Saudi.

Alasan Kepindahan dan Dinamika Geopolitik

Dr. Yaghi menyatakan keprihatinannya atas kebijakan administrasi Donald Trump yang memangkas anggaran sains dan mempersulit hibah penelitian. Kondisi ini dinilai melemahkan ekosistem universitas riset di AS. Di sisi lain, China secara agresif menarik talenta global dengan menyediakan anggaran penelitian yang sangat besar serta fasilitas mutakhir. Dalam wawancaranya, Dr. Yaghi juga menyoroti adanya inersia atau kelambatan di kalangan peneliti AS dalam merangkul integrasi teknologi AI untuk memajukan ilmu pengetahuan.

Fokus Riset di Lembaga Baru

Di Tsinghua University, beliau memimpin institut baru yang berfokus mendesain dan mensintesis material secara cepat menggunakan kecerdasan buatan. Metode ini memangkas proses riset tradisional yang memakan waktu lama. Dr. Yaghi merupakan pelopor Metal-Organic Frameworks (MOFs) material super-berpori yang mampu menangkap karbon dioksida, menyimpan hidrogen, dan memanen air dari udara gurun. Fokus utama risetnya tetap menyasar tantangan lingkungan terbesar, termasuk ketersediaan air bersih, netralitas karbon, dan pembangunan berkelanjutan.

Dampak terhadap Lanskap Sains Dunia

Migrasi ini mempertegas fenomena brain drain dari barat ke timur. Terlebih, hampir separuh dari sekitar 200 peneliti yang pernah dibimbing oleh Dr. Yaghi di Berkeley merupakan warga negara China, yang kini menjadi jaringan talenta siap pakai bagi lembaga barunya. Berdasarkan laporan terbaru seperti Nature Index, perguruan tinggi China kian mendominasi posisi teratas global dalam publikasi ilmiah sektor kimia, sementara institusi Barat menghadapi tantangan pemotongan anggaran internal.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags