Azan Terakhir: Sebuah Fiksi tentang Runtuhnya Peradaban Islam di Indonesia

- Jumat, 10 Juli 2026 | 19:50 WIB
Azan Terakhir: Sebuah Fiksi tentang Runtuhnya Peradaban Islam di Indonesia

Sebuah cerita fiksi berjudul "Azan Terakhir di Indonesia" menggambarkan perjalanan panjang peradaban Islam di Nusantara, dari kemunculan awal hingga kemusnahannya di masa depan. Karya yang ditulis oleh Benz Jono Hartono, seorang praktisi media massa, ini menyoroti bagaimana faktor internal dan eksternal menyebabkan kehancuran umat Islam di Indonesia.

Istilah "Azan Terakhir" menjadi simbol berakhirnya peradaban Islam setelah reformasi 1998. Dalam narasi ini, gabungan kekuatan anti-tauhid yang berideologi materialisme, dipimpin oleh kaum kapitalis dan komunis, bersatu untuk menggerus Islam dan umatnya. Akibatnya, peradaban yang telah eksis hampir berabad-abad di bumi Nusantara hancur berkeping-keping.

Tekanan terhadap Umat Islam

Setelah kehancuran itu, umat Islam menghadapi tekanan berat. Dalam beberapa dekade berikutnya, terjadi penghapusan penggunaan bahasa Arab, larangan menjalankan ibadah secara terbuka, penyitaan kitab-kitab berbahasa Arab, serta penghapusan lembaga-lembaga keislaman. Hak-hak hidup umat Islam dicabut, dan pengusiran besar-besaran marak di seluruh wilayah Indonesia pada awal abad mendatang. Semua nilai dan tata cara keislaman dihabisi, meninggalkan penindasan, perampasan hak, dan kekerasan terhadap kaum Muslimin.

Banyak keluarga Muslim akhirnya memilih meninggalkan Indonesia.

Penyebab Runtuhnya Islam

Cerita ini mengidentifikasi lima penyebab utama runtuhnya Islam di Indonesia: perpecahan politik di kalangan umat Islam, perebutan pengaruh dan ego kelompok internal, ketergantungan pada bantuan pihak luar, lemahnya persatuan menghadapi ancaman bersama, serta menurunnya kualitas kepemimpinan dan militansi generasi Muslim.

Meski kekuasaan Islam berakhir, jejak peradaban para wali masih tersisa. Warisan itu meliputi masjid-masjid, sistem pendidikan Islam di pesantren, serta kontribusi tokoh dan pemikir Islam dalam tatanan toleransi berbangsa dan bernegara serta Pancasila yang berketuhanan Yang Maha Esa.

Pada dasarnya, kisah ini bukan hanya tentang kehancuran umat Islam, tetapi juga refleksi futuristik mengenai bagaimana sebuah peradaban besar dapat mengalami kemunduran ketika perpecahan internal dan tekanan eksternal terjadi bersamaan.

Bersambung...

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags