Kitab Ta'limul Muta'allim karya Syaikh Az-Zarnuji dikenal luas di kalangan penuntut ilmu sebagai panduan adab belajar. Salah satu pembahasan yang menarik adalah konsep tamalluq, yang secara istilah berarti sikap menjilat, merayu, atau mencari muka.
Sikap ini pada dasarnya tercela dalam Islam, terutama jika didasari ketidakjujuran dan motif duniawi. Contohnya, seseorang memuji temannya dengan kebohongan demi mendapatkan traktiran atau keuntungan pribadi lainnya.
Namun, dalam konteks menuntut ilmu, tamalluq justru diperbolehkan dan dikecualikan. Kitab Ta'limul Muta'allim menegaskan bahwa tamalluq itu tercela, kecuali dalam urusan menuntut ilmu. Pengecualian ini berlaku karena aktivitas belajar tidak bisa dipisahkan dari peran guru dan teman belajar. Jalinan interaksi tersebut membutuhkan kedekatan yang erat.
Contoh sikap tamalluq dalam menuntut ilmu adalah merayu atau mencari perhatian teman agar ia mau mengajarkan ilmu yang telah dipahaminya. Contoh lainnya adalah mengambil hati guru agar kita bisa terus mendapatkan curahan ilmu darinya. Misalnya, selalu berusaha menemani atau mengantarkan perjalanan guru, karena di sepanjang perjalanan akan banyak ilmu yang mengalir dari obrolan sang guru.
Sikap meminta pengajaran kepada pemilik ilmu ini sekilas membuat diri kita tampak rendah dan hina di hadapan mereka. Namun, hal tersebut merupakan kewajaran dan keniscayaan bagi seorang penuntut ilmu. Terkait hal ini, Syaikh Az-Zarnuji mengutip ungkapan seorang penyair di dalam kitabnya: "Aku tahu kamu bernafsu ingin jadi orang mulia. Namun kamu tidak akan memperoleh kemuliaan selama kamu tidak menghinakan diri sendiri."
Rendah hati di hadapan guru dan ulama adalah kunci utama pembuka keberkahan ilmu. Tanpa keridaan mereka, ilmu yang dikejar hanya akan menjadi konsumsi akal tanpa mampu menyentuh dan menggerakkan hati.