Seekor gajah Sumatra betina berusia sekitar 60 tahun di Kabupaten Pelalawan, Riau, memilih hidup menyendiri di kawasan kantong gajah Tesso Tenggara, Estate Ukui. Satwa dilindungi yang telah lama memisahkan diri dari kelompoknya ini menjadi perhatian karena usianya yang sangat lanjut.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama sebuah perusahaan melakukan pendampingan medis pada 25-26 Juni 2026. Ini bukan kali pertama gajah tersebut mendapat penanganan. Pada Juli 2025, kondisinya sempat kritis akibat tubuh yang sangat kurus, dehidrasi parah, dan gangguan pencernaan akut. Berkat perawatan tim medis, kesehatannya berangsur pulih dan ia kembali aktif bergerak di habitatnya.
Belakangan, gajah itu kerap terlihat di sekitar perkebunan warga. Langkahnya yang melambat dan aroma tubuh yang kurang sedap membuat warga khawatir ia sakit parah. Menindaklanjuti laporan itu, Tim Medis BBKSDA Riau yang dipimpin drh Rini Deswita segera melakukan pemeriksaan menyeluruh di lapangan.
Meski berusia lanjut, gajah tersebut masih menunjukkan semangat hidup yang kuat. Saat diperiksa, ia tetap lincah dan agresif melindungi diri, bahkan mampu berdiri tegak saat proses pembiusan berlangsung.
Kondisi Kesehatan Membaik
Hasil pemeriksaan medis membawa kabar baik. Kondisi tubuh gajah mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Bobotnya kini diperkirakan mencapai 2.600 kilogram, dengan lingkar dada 340 sentimeter dan tinggi sekitar 230 sentimeter. Kulitnya dalam kondisi baik, tanpa luka atau cedera fisik.
Terkait keluhan warga soal aroma tidak sedap dan kotoran gajah, drh Rini menjelaskan hal itu berkaitan dengan faktor usia. Gigi gajah telah mengalami keausan parah sehingga tidak mampu mengunyah makanan berserat tinggi secara sempurna. Akibatnya, gajah secara alami memilih pakan yang lebih lunak seperti ubi kayu, rumput, umbut, dan batang pisang. Selain itu, terjadi pelemahan alami pada otot anus, yang merupakan proses penuaan wajar, mirip dengan kondisi biologis pada manusia lanjut usia.
"Secara umum, kondisi kesehatannya baik dan stabil. Penurunan fungsi organ ini adalah proses biologis yang wajar mengingat usianya yang sudah lansia. Selama nafsu makannya baik dan tidak stres, gajah ini diperkirakan mampu bertahan hidup dengan baik di habitat alaminya," kata drh Rini.
Selama penanganan, tim medis memberikan obat-obatan suportif dan cairan infus untuk menyegarkan kembali kondisi tubuh gajah yang menua. Kepala BBKSDA Riau Supartono menegaskan penurunan fungsi organ merupakan proses biologis yang umum terjadi pada makhluk hidup yang menua. Selama nafsu makan gajah tetap baik dan tidak stres, satwa itu diharapkan bisa terus bertahan di habitat alaminya.
BBKSDA Riau juga mengajak masyarakat menjaga kelestarian habitat satwa liar. Warga diminta tidak melakukan perburuan dan segera melapor jika menemukan satwa yang membutuhkan bantuan. Upaya pendampingan ini menjadi bagian dari perlindungan terhadap satwa liar, terutama bagi satwa dilindungi seperti Gajah Sumatra yang membutuhkan ruang hidup aman di habitatnya.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Bupati Kuansing Tersangka Suap, Jadi Kepala Daerah Ketujuh di Riau yang Terseret Korupsi
KPK Tetapkan Bupati Kuansing Tersangka Suap Lelang Jabatan, Kasus Ketujuh di Riau
Gajah Sumatera Penjaga Tesso Nilo, Kapten Indro, Mati di Usia 45 Tahun
KPK Dikabarkan Gelar Operasi Tangkap Tangan di Riau, Rumah Dinas Sekda Kuansing Dijaga Ketat