Erling Haaland kini identik dengan gol, rekor, dan kebangkitan Norwegia di Piala Dunia 2026. Dua golnya ke gawang Brasil pada babak 16 besar tak hanya membawa Norwegia ke perempatfinal, tetapi juga menempatkannya sejajar dengan Mbappe dan Messi dalam daftar topskor sementara. Namun, di balik citranya sebagai predator kotak penalti, tersimpan kisah unik sejak masa kanak-kanak, latar keluarga atlet, hingga kebiasaan yang memperlihatkan betapa obsesifnya ia terhadap sepak bola.
Haaland lahir di Leeds, Inggris, pada 21 Juli 2000, saat ayahnya, Alf-Inge Haaland, masih bermain di Premier League. Keluarga itu kemudian pindah ke Bryne, Norwegia, ketika Erling berusia tiga tahun. Meski memenuhi syarat membela tim nasional Inggris, ia memilih Norwegia, negara yang sejak kecil membentuk hidup dan kariernya.
Fakta lain yang tak kalah menarik berasal dari masa kecilnya. Menurut catatan Manchester City, Haaland masih memegang rekor dunia lompat jauh berdiri untuk anak usia lima tahun setelah mencatat lompatan 1,63 meter pada 22 Januari 2006. Ayahnya juga memperkenalkannya pada atletik, ski lintas alam, dan bola tangan sebelum ia benar-benar menekuni sepak bola. Latar itu menjelaskan mengapa Haaland tumbuh bukan hanya sebagai penyerang yang kuat, tetapi juga atlet dengan koordinasi tubuh dan ledakan fisik di atas rata-rata.
Dari rap hingga obsesi pada gol
Ada pula sisi Haaland yang lebih ringan. Sebelum menanjak bersama Red Bull Salzburg, ia pernah tergabung dalam grup rap bernama Flow Kingz bersama dua rekannya di level usia muda Norwegia. Di luar itu, ia pernah menjadikan lagu anthem Liga Champions sebagai nada alarm hariannya. Saat menjalani debut di kompetisi itu bersama Salzburg pada 2019, ia langsung mencetak hat-trick sebelum turun minum, sebuah pencapaian yang membuatnya menjadi pemain pertama yang menuntaskan hat-trick debut Liga Champions sebelum jeda.
Obsesi Haaland terhadap gol bahkan terlihat dari kebiasaannya di luar lapangan. Dalam feature resmi Manchester City, ia pernah berkata, "I sleep with the five balls for each hat-trick I have scored." Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana ia memperlakukan setiap pencapaian bukan sekadar statistik, melainkan bagian dari motivasi pribadi yang terus ia simpan dekat dengan dirinya.
Ledakan besar Haaland di level internasional junior juga datang lewat cara yang hampir sulit dipercaya. Ia mencetak sembilan gol dalam satu pertandingan saat Norwegia menggulung Honduras 12-0 di Piala Dunia U-20 2019, rekor yang masih bertahan untuk satu laga turnamen 11 lawan 11 FIFA. Dari sana, namanya melesat cepat ke panggung elite Eropa.
Kini, ketika publik melihat Haaland sebagai wajah utama Norwegia di Piala Dunia 2026, ada cerita yang lebih dalam daripada sekadar jumlah gol. Ia bukan hanya penyerang yang lahir untuk mencetak angka, tetapi juga produk dari keluarga atlet, kebiasaan disiplin, dan dorongan personal yang sudah tumbuh jauh sebelum dunia mengenalnya sebagai salah satu striker paling menakutkan di sepak bola modern.
Artikel Terkait
Federasi Sepak Bola Meksiko Kembalikan Jam Mewah dari YouTuber Usai Kemenangan Piala Dunia
Neymar Pensiun dari Timnas Brasil Usai Disingkirkan Norwegia di Piala Dunia 2026
Rahasia di Balik Fisik Baja Erling Haaland: Dari Diet Jeroan hingga Meditasi
César Montes Tetap Tampil Saat Meksiko Hadapi Inggris di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026