Pengesahan Doktrin TNI "Perisai Trisula Nusantara" oleh Panglima TNI Agus Subiyanto tidak sekadar perubahan dokumen organisasi militer. Ini menjadi penanda transformasi besar strategi pertahanan Indonesia dalam menghadapi lingkungan keamanan global yang semakin kompleks.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai keputusan tersebut merupakan respons strategis terhadap perubahan karakter peperangan dunia yang berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.
"Perang saat ini sudah berubah total. Jika dahulu kekuatan militer diukur dari jumlah tank, kapal perang, dan pesawat tempur, kini kemenangan lebih banyak ditentukan oleh penguasaan teknologi, kecerdasan buatan, drone, perang siber, satelit, serta kemampuan mengendalikan informasi," ujar Amir Hamzah dalam pernyataan kepada wartawan, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, apa yang disampaikan Panglima TNI dalam pengesahan doktrin tersebut menunjukkan bahwa TNI telah membaca arah perubahan geopolitik dunia secara tepat. Amir menjelaskan bahwa perang modern telah memasuki fase Fifth Generation Warfare (5GW) atau perang generasi kelima. Pada model peperangan ini, negara tidak selalu diserang melalui invasi militer konvensional. Sebaliknya, serangan dilakukan melalui berbagai instrumen non-konvensional secara simultan, seperti serangan siber terhadap infrastruktur vital, perang informasi melalui media sosial, penyebaran disinformasi, penggunaan drone murah namun mematikan, sabotase ekonomi, perang elektronik, kecerdasan buatan, manipulasi opini publik, hingga tekanan geopolitik melalui jalur ekonomi.
"Yang dihancurkan bukan hanya pangkalan militer, tetapi juga psikologi masyarakat, stabilitas politik, ekonomi, bahkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah," kata Amir.
Konflik di berbagai kawasan telah menjadi laboratorium nyata perubahan wajah peperangan. Perang di Eropa Timur memperlihatkan bagaimana drone berharga relatif murah mampu menghancurkan kendaraan tempur bernilai jutaan dolar. Di kawasan Timur Tengah, rudal presisi dan drone kamikaze mengubah strategi pertahanan tradisional. Sementara di kawasan Indo-Pasifik, rivalitas negara-negara besar semakin meningkatkan kebutuhan setiap negara membangun kemampuan pertahanan yang adaptif. "Indonesia tentu mempelajari seluruh perkembangan tersebut," ujarnya.
Secara geopolitik, posisi Indonesia menjadi semakin strategis. Berada di antara dua samudra dan dua benua serta menguasai berbagai jalur pelayaran internasional, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki nilai strategis tinggi dalam kompetisi kekuatan global. "Kita tidak sedang berperang, tetapi berada di kawasan yang menjadi pusat persaingan kekuatan dunia," kata Amir. Kondisi tersebut menuntut Indonesia memiliki kemampuan pencegahan (deterrence) yang kuat. Doktrin baru TNI dinilai menjadi salah satu fondasi menuju kemampuan tersebut.
Amir juga menyoroti peresmian Workshop Drone dan Artificial Intelligence (AI) yang dilakukan Panglima TNI. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan transformasi TNI tidak berhenti pada perubahan doktrin, tetapi juga menyentuh pembangunan kapasitas teknologi. "Artificial Intelligence akan menjadi otak peperangan masa depan." AI akan digunakan dalam analisis intelijen, identifikasi sasaran, pengambilan keputusan secara cepat, pengendalian drone, hingga sistem komando tempur. Negara yang terlambat menguasai AI, kata Amir, akan menghadapi kesenjangan kemampuan pertahanan yang semakin lebar.
Selain AI, pembangunan workshop drone dinilai sebagai langkah yang sangat strategis. Perang beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa drone telah menjadi senjata utama karena biaya operasional relatif murah, fleksibel, mampu menjangkau sasaran jauh, dan mengurangi risiko korban personel. "Bahkan negara dengan anggaran militer terbatas mampu memberikan tekanan kepada kekuatan militer besar hanya melalui inovasi drone," paparnya.
Amir juga menggarisbawahi peresmian lahan aplikasi ketahanan pangan oleh Panglima TNI. Dalam perspektif geopolitik modern, pangan bukan lagi semata persoalan ekonomi. "Negara yang tidak mampu menjaga pangan dapat mengalami instabilitas sosial bahkan keamanan nasional," jelasnya. Keterlibatan TNI dalam mendukung ketahanan pangan dinilai sejalan dengan konsep keamanan nasional yang semakin multidimensi.
Selama ini modernisasi sering dipahami sebagai pembelian pesawat tempur, kapal perang, atau tank baru. Padahal, menurut Amir, modernisasi yang sesungguhnya justru berada pada perubahan cara berpikir. Doktrin menjadi pedoman seluruh organisasi militer dalam merancang operasi, pendidikan, latihan, hingga pengembangan teknologi. "Doktrin adalah software. Alutsista hanyalah hardware. Hardware secanggih apa pun tidak akan optimal tanpa software yang tepat," tegasnya.
Pengesahan Doktrin Perisai Trisula Nusantara juga mengandung pesan strategis kepada dunia internasional. Indonesia ingin menunjukkan bahwa meskipun tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif, negara tetap membangun kemampuan pertahanan yang kredibel untuk menjaga kedaulatan nasional. "Doktrin ini menunjukkan Indonesia tidak sedang mencari musuh, tetapi sedang mempersiapkan diri menghadapi perubahan lingkungan strategis yang berlangsung sangat cepat," ujar Amir.
Ia menambahkan, dalam dunia intelijen terdapat prinsip bahwa ancaman terbaik adalah ancaman yang berhasil dicegah sebelum terjadi. "Oleh karena itu, transformasi doktrin yang dilakukan Panglima TNI merupakan langkah antisipatif agar TNI memiliki kesiapan menghadapi spektrum ancaman masa depan, mulai dari perang konvensional hingga ancaman hibrida yang melibatkan teknologi, ruang siber, informasi, dan kecerdasan buatan," pungkas Amir Hamzah.