Pengamat hubungan internasional dan militer, Sutoyo Abadi, menilai terdapat kemiripan antara pola permainan Timnas Iran di lapangan hijau dengan strategi perang yang diterapkan negara tersebut. Pandangan itu ia sampaikan dalam rilis tertanggal 3 Juli 2026.
Menurut Sutoyo, skema gol Iran sering kali menonjolkan kecerdasan taktik bola mati (set-piece). Ia mencontohkan eksekusi tendangan bebas mematikan yang kerap membobol gawang lawan. "Pancingan pergerakan Iran menempatkan beberapa pemain untuk melakukan pergerakan lari tanpa bola secara bersamaan. Hal itu bertujuan menarik perhatian dan memecah konsentrasi bek lawan sehingga menciptakan ruang kosong bagi algojo atau target utama," ujarnya.
Ia menganalogikan taktik tersebut dengan strategi diplomasi Iran. "Sama dengan skema cantik Iran dalam perang tetap menempuh jalur diplomasi maju mundur membuat ruang kosong pada perundingan damai dan pembentukan Nota Kesepahaman (MoU) dengan AS untuk cetak gol jaminan keamanan, cabut sanksi ekonomi serta pengembalian aset negara," katanya.
Sutoyo juga menyoroti peran striker dalam timnas Iran yang bertugas sebagai penyerang utama. Menurutnya, posisi itu berfokus pada penyelesaian akhir dan memanfaatkan peluang menjadi gol. "Diplomat Iran sebagai striker Nota Kesepahaman (MoU) paling dekat dengan AS, tetap menempati posisi menekan bek lawan supaya lawan sulit membangun serangan," ujarnya.
Ia melanjutkan, Iran kerap melakukan tembakan ke arah gawang dengan umpan lambung melengkung presisi tinggi ke area tiang jauh (far post). Umpan tersebut biasanya diarahkan kepada bek tengah atau penyerang yang lolos dari penjagaan. "Kecerdasan Iran ketika AS dianggap offside melanggar MoU, Iran langsung melakukan umpan lambung serangan gol ke Israel dan markas militer AS di Timur Tengah dinilai sangat brilian sebagai gol yang sah lolos dari sanksi," ujar Sutoyo.
Skema cantik lainnya, kata dia, sering diselesaikan dengan sundulan kepala atau operan pendek mendatar (cut-back) yang langsung diteruskan sontekan cepat ke sudut sempit gawang lawan. "Begitu AS coba melakukan serangan menargetkan fasilitas Iran di Selat Hormuz, Iran langsung melakukan gol sontekan cepat ke panglima perang masuk serangan ke sudut sempit di kawasan Kuwait, Bahrain, dan tutup Selat Hormuz," katanya.
Menurut Sutoyo, tim sepak bola Iran tetap siaga dengan menempatkan winger di sisi sayap, bukan di tengah depan seperti striker, dengan formasi kompak. Ia mengaitkan hal itu dengan strategi militer Iran. "Demikian tim perang Iran tetap siaga menempatkan striker, penyerang, dan center forward yang tangguh berada paling depan di lini serang, tugas utamanya mencetak gol serangan balasan dengan berbagai jenis drone, rudal presisi tinggi ke gawang sasarannya sebagai gol balasan yang tidak mengenal ampun," tegasnya.
Menutup pernyataannya, Sutoyo mengatakan bahwa sebagai penikmat sepak bola dan perang Iran, ia melihat kemiripan strategi yang sama-sama menunjukkan kecerdasan. "Sebagai penikmat sepak bola dan perang Iran terasa identik strategi kecerdasan yang indah ketika serangan bola membobol gol ke gawang dan serangan drone/rudal ke gawang lawan," pungkasnya.
Artikel Terkait
Ribuan Pelayat Iringi Pemakaman Kenegaraan Ali Khamenei di Teheran
Analis Politik Nilai Rocky Gerung Turun Tiga Oktaf Usai Serang Tiyo Ardianto
Medvedev Pimpin Delegasi Rusia ke Pemakaman Khamenei, Ramal Iran Kalahkan AS
Jenazah Khamenei Disemayamkan di Teheran, Iran Gelar Pemakaman Massal Selama Sepekan