Menteri Jumhur Dorong Kampus Jadi Motor Gerakan Nasional Pengelolaan Sampah

- Kamis, 02 Juli 2026 | 10:50 WIB
Menteri Jumhur Dorong Kampus Jadi Motor Gerakan Nasional Pengelolaan Sampah

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mendorong perguruan tinggi untuk menjadi simpul utama dalam gerakan nasional pendidikan pengelolaan sampah. Ia menekankan bahwa kampus tidak boleh hanya menjadi tempat berdiskusi tentang krisis, tetapi harus melahirkan solusi nyata.

"Mulailah dari kampus sendiri. Terapkan pemilahan yang konsisten. Olah sampah organik dari kantin. Bangun bank sampah kampus. Libatkan mahasiswa dalam audit sampah. Jadikan sekolah mitra sebagai laboratorium perubahan perilaku. Arahkan KKN untuk mendampingi kelurahan, pasar, sekolah, dan komunitas," kata Jumhur saat berbicara di Forum Akademik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bertema "Memetakan Solusi Darurat Sampah Indonesia" di Aula Latief Hendraningrat, Kampus UNJ, Rabu.

Menurut Jumhur, perubahan di satu kampus akan menjadi contoh. Jika banyak kampus berubah, akan lahir gerakan. Dan jika gerakan itu masuk ke sekolah, ia akan menjadi budaya bangsa.

"Karena forum ini berlangsung di Universitas Negeri Jakarta, izinkan saya memberi penekanan khusus pada peran kampus. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat membahas krisis. Kampus harus menjadi tempat melahirkan solusi," ujarnya.

Jumhur memaparkan tiga peran besar universitas dalam agenda darurat sampah. Pertama, kampus sebagai laboratorium ilmu pengetahuan. Kedua, kampus sebagai laboratorium perilaku. Ketiga, kampus sebagai laboratorium integritas kebijakan.

"Kita membutuhkan riset yang menjawab masalah nyata: berapa komposisi sampah di tingkat rumah tangga, sekolah, pasar, dan kampus; teknologi mana yang paling sesuai untuk tiap wilayah; bagaimana menghitung emisi metana; bagaimana model pembiayaan yang adil; bagaimana perilaku memilah dapat dibentuk; bagaimana ekonomi sirkular membuka lapangan kerja hijau; dan bagaimana kebijakan daerah dapat dievaluasi secara ilmiah," jelasnya.

Sebagai kampus pendidikan, UNJ memiliki keunggulan dalam membentuk calon guru, pendidik, dan pemimpin sosial. Jumhur menekankan bahwa jika budaya pilah sampah hidup di kampus, ia dapat menyebar ke sekolah, keluarga, dan masyarakat. Program KKN, kampus minim sampah, kantin rendah sampah, audit sampah mahasiswa, sekolah mitra Adiwiyata, dan modul pembelajaran lingkungan dapat menjadi gerakan nyata.

"Kampus sebagai laboratorium integritas kebijakan harus membantu negara menjaga agar kebijakan sampah tidak berhenti menjadi slogan. Kampus dapat memberi kritik berbasis data, mengevaluasi implementasi, menguji teknologi, dan menawarkan alternatif. Kritik akademik yang jujur bukan gangguan bagi pemerintah. Kritik akademik adalah bahan bakar perbaikan kebijakan," kata Jumhur.

Ia mengingatkan bahwa sampah bukan sekadar urusan teknis. "Sampah adalah pintu masuk untuk memahami negara, ekonomi, hukum, teknologi, perilaku manusia, ketimpangan sosial, dan perubahan iklim," ujarnya. Karena itu, Jumhur mengajak mahasiswa UNJ menjadi generasi yang tidak hanya mengeluh melihat sampah, tetapi mampu merancang solusi.

"Perubahan besar sering dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus. Menghabiskan makanan. Memilah sampah. Mengurangi plastik sekali pakai. Membawa tumbler. Mengompos. Mengukur timbulan sampah. Mendampingi warga. Mengembangkan riset. Mengkritik kebijakan dengan data. Semua terlihat kecil. Tetapi bila dilakukan oleh jutaan orang, ia menjadi perubahan struktural," katanya.

Dalam forum itu, Jumhur menyampaikan tiga pesan utama. Pertama, darurat sampah adalah krisis sistemik, maka solusinya harus sistemik. "Tidak cukup hanya bersih-bersih. Tidak cukup hanya menambah TPA. Tidak cukup hanya membeli teknologi. Kita harus memperbaiki seluruh rantai: produksi, konsumsi, pemilahan, pengumpulan, pengolahan, pasar daur ulang, energi, pembiayaan, data, dan penegakan hukum," ujarnya.

Kedua, sampah adalah agenda iklim dan agenda keadilan. Ketika sampah tidak terkelola, yang paling menderita adalah masyarakat sekitar TPA, warga bantaran sungai, nelayan, anak-anak, dan kelompok rentan. Pengelolaan sampah bukan hanya soal kota bersih, tetapi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Ketiga, universitas harus menjadi pusat gerakan pengetahuan dan perubahan perilaku. "Saya berharap forum ini tidak berhenti sebagai seminar. Saya berharap lahir peta aksi, riset kolaboratif, gerakan kampus minim sampah, dan kontribusi nyata UNJ bagi Indonesia," kata Jumhur.

Menteri LH mengajak semua pihak bergerak dari budaya membuang menuju budaya mengelola; dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular; dari TPA sebagai tujuan akhir menuju TPA sebagai pilihan terakhir; dari darurat sampah menuju Indonesia ASRI: bersih, sehat, rendah emisi, dan berkeadilan.

"Saya percaya, jika ilmu pengetahuan bergerak, kebijakan bekerja, dunia usaha bertanggung jawab, masyarakat berubah, dan kampus menjadi teladan, maka target 100% sampah terkelola bukan sekadar angka dalam dokumen. Ia dapat menjadi kenyataan," pungkas Jumhur.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags