Pada tahun 1440, seorang filsuf dan teolog Jerman bernama Nikolas dari Cusa menulis sebuah karya yang akan mengubah cara manusia memandang alam semesta. Dalam buku berjudul De Coniecturis (Tentang Konjektur), ia memperkenalkan gagasan bahwa pengetahuan manusia tidak pernah mencapai kebenaran mutlak, melainkan hanya berupa konjektur dugaan yang terinformasi namun tetap tidak pasti. Konsep ini, bersama dengan pemikiran radikalnya tentang alam semesta yang tak berbatas dan Bumi yang bukan pusat segalanya, menempatkannya sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh pada masanya, bahkan menginspirasi ilmuwan seperti Galileo Galilei berabad-abad kemudian.
Nikolas dari Cusa, yang juga dikenal sebagai Nicholas Cusanus, lahir pada 1401 di kota Kues, Jerman. Ia adalah seorang kardinal, filsuf, dan ilmuwan yang karyanya mencakup berbagai bidang, mulai dari filsafat dan teologi hingga matematika dan astronomi. Salah satu kontribusi utamanya adalah konsep docta ignorantia (kebodohan yang bijak) dan coincidentia oppositorum (keselarasan antara lawan-lawan). Dalam teologi, ia menulis tentang sifat Tuhan dan hubungan antara Tuhan dengan alam semesta. Di bidang politik, ia terlibat dalam urusan gereja dan menjadi penasihat bagi beberapa Sri Paus.
Namun, yang paling menonjol adalah visinya tentang alam semesta. Ia percaya bahwa alam semesta tidak memiliki batas dan bahwa Bumi bukanlah pusatnya sebuah gagasan yang sangat kontroversial pada zamannya. Pandangan ini kemudian memengaruhi Galileo Galilei, yang mengakui pengaruh Nikolas dalam pemikirannya. Galileo, yang mengemukakan bahwa Matahari, bukan Bumi, yang menjadi pusat tata surya, dihukum tahanan rumah oleh gereja hingga akhir hayatnya. Sementara itu, Nikolas dari Cusa tidak pernah mengalami nasib serupa, meskipun gagasannya tak kalah revolusioner.
Konsep Konjektur dalam De Coniecturis
Dalam De Coniecturis, Nikolas mengembangkan konsep konjektur sebagai cara untuk memahami alam semesta dan hubungan antara Tuhan dan ciptaan. Konjektur, menurutnya, adalah bentuk pengetahuan yang sah meskipun tidak pasti. Karena keterbatasan akal manusia, kita tidak dapat mencapai kebenaran mutlak, tetapi hanya dapat membuat konjektur tentangnya. Ia menggunakan metafora alam semesta sebagai buku, di mana Tuhan adalah penulis dan ciptaan adalah teks yang dapat dibaca. Peran akal manusia adalah membaca dan menafsirkan teks tersebut, meskipun dengan segala keterbatasannya.
Karya ini juga membedakan konjektur dari hipotesis dan spekulasi. Konjektur adalah dugaan yang didasarkan pada informasi yang tersedia, hipotesis adalah konjektur yang lebih spesifik dan dapat diuji secara empiris, sedangkan spekulasi adalah pemikiran tanpa dasar bukti yang kuat. Dalam ilmu pengetahuan modern, konjektur dan hipotesis menjadi langkah awal dalam proses penelitian, di mana suatu dugaan diajukan dan kemudian diuji untuk memastikan kebenarannya.
Pengaruh De Coniecturis sangat besar dalam sejarah filsafat dan teologi, dan masih dipelajari hingga hari ini. Galileo Galilei, misalnya, mengaku sangat terpengaruh oleh pemikiran Nikolas, terutama gagasan bahwa Bukan Bumi yang diputari Matahari, melainkan sebaliknya. Namun, nasib keduanya berbeda: Nikolas tidak pernah dikutuk gereja, sementara Galileo dihukum tahanan rumah hingga ajalnya. Baru lebih dari tiga setengah abad kemudian, otoritas gereja akhirnya mengakui kekeliruan mereka dalam menghukum Galileo, yang namanya secara tak sengaja diabadikan dalam lagu Bohemian Rhapsody oleh Queen.
Artikel Terkait
Bus Mira dan Sugeng Rahayu Adu Kebut di Nganjuk, Terekam CCTV
Polisi Tunggu Hasil Lab Forensik untuk Ungkap Kematian ASN Bangkalan di Bandara Juanda
Tiga Drama Korea Bertema Manipulasi dan Plot Twist untuk Penggemar Notes from the Last Row
Kemenkes Usut Dugaan Intimidasi terhadap Dokter Icha yang Ditemukan Tewas