FOMO: Kecemasan Akibat Takut Ketinggalan Tren, Ini Dampak dan Cara Mengatasinya

- Jumat, 26 Juni 2026 | 07:50 WIB
FOMO: Kecemasan Akibat Takut Ketinggalan Tren, Ini Dampak dan Cara Mengatasinya

Kecanduan memeriksa ponsel setiap beberapa menit, rasa gelisah saat tidak melihat notifikasi, dan dorongan kuat untuk selalu menjadi yang pertama tahu tentang sesuatu yang viral perilaku ini kini lazim di masyarakat. Dalam istilah psikologi digital, kondisi itu dikenal sebagai FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu kecemasan berlebih karena merasa tertinggal dari tren, informasi, atau pengalaman yang sedang dialami orang lain.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan. FOMO mendorong perilaku impulsif, membuat seseorang terus-menerus berusaha terlibat dan diakui di lingkungan sosialnya. Mereka yang mengalaminya cenderung merasa bangga dan puas jika bisa oversharing atau menyebarkan informasi yang tampak viral, meski kebenarannya belum tentu terverifikasi. Pertanyaan pun muncul: mengapa ini bisa terjadi?

Media sosial menjadi pemicu utama. Paparan konstan terhadap kehidupan orang lain yang tampak sempurna mulai dari liburan mewah, pencapaian karier, hingga momen kebersamaan menciptakan standar hidup yang tidak realistis. Algoritma platform digital memperkuat efek ini dengan menyajikan konten berdasarkan kebiasaan pengguna. Di sisi lain, ada kebutuhan alami manusia untuk merasa diterima, diakui, dan terhubung dengan komunitas. Kombinasi inilah yang membuat FOMO begitu mudah menjangkiti siapa saja.

Gejala FOMO bisa dikenali dari beberapa tanda. Pertama, ketergantungan pada gawai: ponsel diperiksa secara impulsif karena takut ketinggalan notifikasi atau kabar terbaru. Kedua, pembelian impulsif: seseorang rela membeli barang yang sedang viral atau tiket acara mahal demi gengsi dan eksistensi, bukan karena kebutuhan. Ketiga, sulit menolak ajakan: memaksakan diri hadir di berbagai acara meski tubuh lelah atau anggaran terganggu, hanya karena takut kehilangan momen.

Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini membawa dampak serius. FOMO dapat memicu stres, rasa kesepian, kecemasan berlebih, hingga depresi. Gangguan fisik juga mengintai, seperti kelelahan ekstrem serta pola tidur dan makan yang kacau. Dari sisi finansial, kebiasaan ini berisiko menyebabkan masalah keuangan karena pengeluaran yang tidak sesuai prioritas.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Langkah pertama adalah mengurangi screen time. Batasi penggunaan media sosial dan matikan notifikasi yang tidak mendesak. Kedua, fokus pada diri sendiri berhenti membandingkan pencapaian hidup dengan apa yang terlihat di dunia maya. Ketiga, terapkan JOMO, kependekan dari Joy of Missing Out. Ini adalah seni menikmati ketenangan, menghargai waktu untuk diri sendiri, dan meresapi momen di kehidupan nyata.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.