Menag: Pesantren Tak Cukup Lahirkan Pemimpin Kharismatik, Harus Juga Profesional dan Adaptif

- Jumat, 05 Juni 2026 | 09:35 WIB
Menag: Pesantren Tak Cukup Lahirkan Pemimpin Kharismatik, Harus Juga Profesional dan Adaptif

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren tidak hanya dituntut melahirkan generasi pemimpin yang unggul, tetapi juga memiliki kapasitas manajerial yang kuat agar mampu menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, pesantren memiliki karakter keilmuan yang khas dan tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan lainnya. Oleh karena itu, penguatan Direktorat Jenderal Pesantren harus diarahkan untuk memperkuat identitas, tradisi keilmuan, serta keunggulan pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

“Pesantren memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang khas,” ujarnya saat kegiatan Penguatan Direktorat Jenderal Pesantren melalui Bedah Buku KH. Abdul Wahab Hasbullah, di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, Jumat (5/6/2026).

“Keunggulan itu harus terus diperkuat agar pesantren mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin mengangkat sosok KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai teladan kepemimpinan pesantren yang berhasil memadukan visi besar dengan kemampuan mengelola organisasi secara efektif. Menurutnya, tokoh tersebut tidak hanya dikenal sebagai pemimpin pergerakan yang memiliki pengaruh luas, tetapi juga figur yang mampu membangun dan mengelola organisasi secara profesional.

“Pesantren ke depan tidak cukup hanya melahirkan figur pemimpin yang kharismatik. Pesantren juga harus melahirkan pengelola yang profesional, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan lembaga,” tegasnya.

Nasaruddin mencontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai figur ideal yang memadukan kepemimpinan dan manajemen dalam satu pribadi. Model kepemimpinan semacam itulah yang menurutnya perlu menjadi inspirasi bagi pengembangan pesantren di Indonesia.

Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi nasionalisme yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren. Ia menilai pesantren memiliki kontribusi besar dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus membangun karakter kebangsaan masyarakat Indonesia.

“Pesantren sejak awal telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan komitmen kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam membangun Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menambahkan bahwa momentum pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren menjadi tonggak penting dalam sejarah pengembangan pesantren di Indonesia. Kehadiran Ditjen Pesantren merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren sekaligus bentuk penguatan kelembagaan bagi lebih dari 42 ribu pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Ini merupakan capaian bersejarah bagi dunia pesantren. Kami bersyukur pesantren kini memiliki penguatan kelembagaan yang lebih kuat untuk mendukung pengembangan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Basnang.

Basnang juga menegaskan bahwa data Kementerian Agama menunjukkan jumlah santri secara nasional tidak mengalami penurunan signifikan. “Tantangan yang dihadapi lebih banyak berkaitan dengan sistem pendataan, khususnya pada pesantren yang memiliki satuan pendidikan formal berupa sekolah dan madrasah,” tandasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar