BRMS menguat tipis 0,47% ke Rp 1.060, namun pergerakannya masih dibayangi tekanan jual dan belum berhasil menembus rata-rata pergerakan 20 hari (MA20). Pola pergerakan ini mengindikasikan saham masih dalam fase konsolidasi.
Analis mengungkapkan, "Diperkirakan berada pada bagian dari wave ii dari wave (c) dari wave [b]."
Oleh karena itu, strategi yang disarankan adalah Buy on Weakness di kisaran 985–1.035. Target harga diletakkan di 1.120 dan 1.225, dengan batas risiko stop loss di bawah Rp 900.
INCO: Peluang Beli Saat Melemah
INCO menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 0,73% ke level Rp 6.900, didukung oleh volume pembelian yang masuk. Analisis pola gelombang menunjukkan saham emiten tambang ini sedang dalam fase penyesuaian.
"Saat ini diperkirakan berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 5," tutur analis.
Rekomendasi untuk INCO adalah Buy on Weakness pada rentang 6.425–6.775. Target harga yang diproyeksikan adalah 7.225 dan 7.625, dengan stop loss di bawah Rp 6.350.
NICL: Potensi Pemulihan Setelah Koreksi
Berbeda dengan lainnya, saham NICL justru mengalami koreksi cukup dalam sebesar 4,38% ke harga Rp 1.200. Tekanan jual yang kuat membuat saham ini belum mampu mendekati level MA60, menandakan sentimen yang masih lemah.
Analis memaparkan, "Diperkirakan berada pada bagian dari wave B dari wave (B)."
Strategi yang ditawarkan adalah Buy on Weakness di area 1.100–1.170, dengan target pemulihan menuju 1.375 dan 1.470. Investor disarankan menempatkan stop loss di bawah Rp 1.040 untuk membatasi kerugian.
Disclaimer: Rekomendasi ini merupakan analisis teknikal dan bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada masing-masing investor.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata AS-Iran Goyah, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
Waterboom Grand Mall Maros Tawarkan Wahana Air Terjangkau di Dekat Makassar
Proyek Perbaikan Jalan Aroepala Makassar Picu Kemacetan, Diklaim Bukan Sekadar Tambal Sulam
Harga Emas Antam Anjlok Rp50.000 per Gram pada Perdagangan Kamis