Mahfud MD Apresiasi KPK yang Kini Merambah Sektor Pajak dan Bea Cukai

- Kamis, 19 Februari 2026 | 22:00 WIB
Mahfud MD Apresiasi KPK yang Kini Merambah Sektor Pajak dan Bea Cukai

"Tapi, kebijakan pun kalau ada mens rea ya tetap saja, tetap harus diadili kalau ada bukti pelanggaran hukum, melanggar prosedur, dan sebagainya, lalu merugikan keuangan negara, memperkaya orang lain atau diri sendiri atau korporasi," jelasnya.

Ia menekankan, aturan tentang mens rea atau unsur kesalahan ini sudah diatur dalam KUHP baru dengan empat ukuran. Artinya, alasan klasik seperti "saya tidak dapat keuntungan pribadi" tidak serta-merta membebaskan seseorang. Bagaimana jika kebijakannya justru menguntungkan sebuah korporasi tertentu?

Sebab, modusnya bisa sangat licin. Tindak pidana pencucian uang kerap dirancang agar si pejabat tak langsung menerima uang. Uangnya bisa dialirkan ke keluarga, atau ke perusahaan lain yang terkait.

"Anda perusahaan ambil proyek ke saya pemerintah, saya tidak dapat apa-apa tapi Anda memberi uang ke saudara saya di desa, suruh beli tanah, lalu suruh hadiahkan ke saya, memberi uang ke istri untuk mendirikan restoran, restorannya tidak laku tapi asetnya ratusan miliar itu bentuk-bentuk pencucian uang itu," papar Mahfud dengan gamblang.

Ia juga mengkritik argumen yang sering dipakai pejabat saat diburu hukum: bahwa mereka sudah diperiksa BPK dan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Padahal, opini WTP dari BPK sama sekali bukan jaminan bebas korupsi. Mahfud mengingatkan, bahkan pegawai BPK sendiri bisa terlibat kasus, atau menjadi otak di balik skema korupsi.

"Semua pejabat itu kantornya WTP, kan hanya menyesuaikan laporan dengan ini cari kuitansi ini kewajaran ini, sudah ada LKPP kan sekarang kalau beli standarnya ini, tapi tetap saja di LKPP bisa ada kick back, itu yang harus dicari," pungkasnya.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar