“Mereka menerima kami seperti keluarga. Kami bermain jauh dari rumah, tapi di sini kami merasa seperti di rumah,” ungkap Fernandes.
Ikatan emosional itu, menurutnya, berbanding lurus dengan tanggung jawab yang harus dibawa ke lapangan. Membela PSM berarti menjadi duta budaya daerah di setiap pertandingan, sebuah kebanggaan yang membutuhkan dedikasi tinggi. Fernandes juga menyoroti sisi profesionalisme, menekankan bahwa bakat alam saja tidaklah cukup untuk bertahan di level kompetisi tertinggi.
“Talenta saja tidak cukup. Kalau tidak berlatih setiap hari dan tidak punya mental yang kuat, kamu tidak akan bertahan,” pesannya kepada para mahasiswa, menekankan pentingnya disiplin dan mentalitas juara.
Sinergi yang Dibangun atas Nilai Kebersamaan
Dialog tersebut juga mengundang perspektif dari pihak sponsor yang telah lama mendampingi perjalanan klub. Perwakilan dari Honda, yang telah bekerja sama dengan PSM selama delapan tahun, menggambarkan hubungan kemitraan itu telah berkembang melebihi sekadar transaksi bisnis.
“Kami melihat PSM bukan hanya klub, tapi kebanggaan masyarakat. Di situlah nilai yang sama antara Honda dan PSM, ingin selalu dekat dan memberi manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Pernyataan itu menggarisbawahi bagaimana PSM dipandang sebagai sebuah institusi sosial yang menyatu dengan denyut nadi masyarakat. Forum Meet and Greet ini, pada akhirnya, berhasil menunjukkan potensi sinergi yang kuat antara dunia olahraga profesional dan lingkungan akademik. Lebih dari sekadar temu sapa, acara ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menjaga nyala api identitas dan komitmen menjadikan PSM sebagai kebanggaan yang abadi bagi Sulawesi Selatan.
Artikel Terkait
Analis: IHSG Berpotensi Koreksi Lebih Dalam Meski Ada Pembelian
Anggota DPR Desak PBB Investigasi Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon
KPK Tetapkan Dua Tersangka Baru dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Mendagri Tito Karnavian: Pengumuman Resmi WFH ASN Dijadwalkan Besok