Dua pekan lalu, umat Islam sedunia memperingati Isra' Mikraj. Momen agung itu, di mana perintah salat lima waktu diturunkan. Kiblat pertama kita? Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kota suci yang kini, ironisnya, jadi sasaran bombardir Israel.
Konflik yang melanda Palestina ini, kalau kita tilik, punya akar yang dalam dalam sejarah peradaban Islam. Peradaban kita pernah berdiri tegak selama tiga belas abad sejak Nabi Muhammad SAW membangun Madinah, sampai akhirnya Khilafah Utsmani runtuh di 1924. Sudah lebih dari seabad umat Islam hidup tanpa kepemimpinan global yang satu. Tanpa pelindung sejati untuk jiwa, harta, dan tanah. Palestina, sayangnya, membayar harga yang paling mahal untuk keadaan ini.
Menurut Qatar News Agency, korban jiwa di Palestina sejak Oktober 2023 sudah mencapai angka yang memilukan: 71.562 syahid. Luka-luka? Lebih dari 171.000 orang. Tapi penderitaan mereka bukan cuma dari ledakan bom. Ada juga siksaan yang lebih pelan, lebih sistematis: kelaparan yang diakibatkan oleh blokade bantuan kemanusiaan.
Kita mungkin ingat Kapal Madleen, bagian dari gerakan Global Sumud Flotilla, yang coba bawa bantuan ke Gaza di Juni 2025. Nasibnya? Dicegat militer Israel di perairan internasional. Para aktivisnya, termasuk Greta Thunberg, dideportasi. Itu belum akhir cerita. Di penghujung 2025, Israel mencabut izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional yang beroperasi di Gaza.
Akibatnya bisa ditebak. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur WHO, menyuarakan keprihatinan yang mendalam.
Lebih dari 100.000 anak, ditambah 37.000 ibu hamil dan menyusui di Gaza, diprediksi akan menderita kekurangan gizi akut. Sebelumnya, laporan IPC sudah memperingatkan: setidaknya 1,6 juta penduduk Gaza terancam kerawanan pangan parah hingga pertengahan 2026.
Di sisi lain, perampasan tanah terus berjalan. Gerakan Zionis religius Mizrachi dengan terang-terangan menyebut perluasan permukiman sebagai strategi inti untuk menggagalkan berdirinya negara Palestina. Pandangan serupa datang dari dalam Israel sendiri.
Yair Dvir, juru bicara organisasi hak asasi manusia B'Tselem, menilai kebijakan permukiman Israel itu punya karakter pembersihan etnis.
Israel tentu tak bisa berbuat semena-mena sendirian. Negara ini adalah produk dari gerakan Zionisme, yang momentum politiknya dapat angin lewat Deklarasi Balfour 1917 oleh Inggris. Dukungan itu kemudian diwarisi oleh Amerika Serikat, yang jadi penopang utama eksistensi Israel hingga kini. Ingat 'deal of the century' Donald Trump? Rencana Perdamaian Timur Tengah itu menjanjikan investasi fantastis, puluhan miliar dolar, untuk membangun terowongan penghubung dan pulau buatan di Gaza seperti dilaporkan Al Jazeera.
Artikel Terkait
Menteri Rachmat: Jangan Beri Kail, Kalau Orangnya Sudah Keburu Meninggal
Gerbang Terbuka, Anjing-Anjing Galak Menerjang Dua Bocah di Bandung
Kapolda DIY Soroti Lemahnya Koordinasi di Balik Kasus Hogi Minaya
Prasetyo Tegaskan: Reshuffle Kabinet Murni Hak Prerogatif Prabowo