Tak semua peserta diklat calon petugas haji akhirnya bisa berangkat. Fakta itu diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Suci Anisa, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis malam kemarin. Menurutnya, sejak awal Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, sudah mengingatkan bahwa kelulusan tidak otomatis.
“Diklat ini tidak bisa dipastikan bahwasannya seluruh calon petugas haji akan diberangkatkan,” kata Suci.
Ia lalu merinci sejumlah penyebab keguguran. “Karena banyak beberapa faktor yang telah disampaikan sebelumnya, dan salah satu yang paling fatal itu adalah absensi,” sambungnya.
Soal absensi ini rupanya cukup ketat. Setiap sesi materi, baik kelas bahasa Arab maupun lainnya, wajib dihadiri dengan sistem pemindaian barcode QR.
“QR itu diabsen, tapi secara personal (ada yang) fisiknya tidak ada di kelas,” ucap Suci. “Dan itu salah satu bentuk pelanggaran yang fatal.”
Di sisi lain, bukan cuma soal bolos kelas. Ada juga yang mundur karena tak dapat izin dari tempat kerja, atau ternyata terkendala masalah kesehatan.
“Nah, yang penyakit ini saya tidak bisa menjelaskan secara terkhusus, karena memang jenis penyakit itu adalah rahasia, hanya tim panitia tertentu yang mengetahui,” jelasnya.
Meski begitu, Suci memberi sedikit gambaran. “Tapi salah satunya yang paling krusial, ada salah satu dari mereka yang gugur karena indikasi penyakit jantung. Dan kami juga menyampaikan kepada publik bahwa bukan hanya satu, tetapi ada beberapa.”
Secara total, peserta yang gugur karena sakit mencapai enam orang. Jumlah itu, kata dia, masih mungkin bertambah seiring berjalannya proses.
Harapannya sih semua bisa berangkat. Tapi realitanya berbeda. “Karena kita ingin pelaksanaan haji 2026 ini menghasilkan pelayanan yang maksimal, khususnya untuk jemaah haji,” tegas Suci.
Pesan dari pimpinan pun jelas. “Tidak ada istilah petugas haji yang nebeng untuk naik haji. Karena kita memfokuskan pada pelayanan maksimal.”
Pandangan serupa datang dari Wadandiklat PPIH Arab Saudi, Kolonel (Purn) Kurniawan Muftiono, yang hadir dalam kesempatan sama. Ia menegaskan bahwa kurikulum diklat dirancang untuk satu tujuan utama.
“Kurikulum itu harapannya untuk mencapai tujuan utama,” kata Muftiono.
Tujuannya apa? Membentuk petugas yang disiplin, punya integritas, dan paling penting: mampu melayani jemaah dengan baik. Kalau standar itu tak terpenuhi, ya itu jadi indikator kegagalan.
“Salah satunya karena faktor absensi, ketidakhadiran dalam pelajaran, ketidakdisiplinan, tidak memenuhi syarat administrasi, serta faktor kesehatan,” ujarnya merinci.
Masih ada faktor lain sebenarnya. Hanya saja, Muftiono memilih tak menjabarkan semuanya. “Banyak sekali hal semacam itu yang tentu saja tidak bisa saya rinci satu per satu kepada publik, tetapi itu menjadi ranah kami sebagai pengelola pendidikan dan pelatihan ini,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu