Tak semua peserta diklat calon petugas haji akhirnya bisa berangkat. Fakta itu diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Suci Anisa, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis malam kemarin. Menurutnya, sejak awal Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, sudah mengingatkan bahwa kelulusan tidak otomatis.
“Diklat ini tidak bisa dipastikan bahwasannya seluruh calon petugas haji akan diberangkatkan,” kata Suci.
Ia lalu merinci sejumlah penyebab keguguran. “Karena banyak beberapa faktor yang telah disampaikan sebelumnya, dan salah satu yang paling fatal itu adalah absensi,” sambungnya.
Soal absensi ini rupanya cukup ketat. Setiap sesi materi, baik kelas bahasa Arab maupun lainnya, wajib dihadiri dengan sistem pemindaian barcode QR.
“QR itu diabsen, tapi secara personal (ada yang) fisiknya tidak ada di kelas,” ucap Suci. “Dan itu salah satu bentuk pelanggaran yang fatal.”
Di sisi lain, bukan cuma soal bolos kelas. Ada juga yang mundur karena tak dapat izin dari tempat kerja, atau ternyata terkendala masalah kesehatan.
“Nah, yang penyakit ini saya tidak bisa menjelaskan secara terkhusus, karena memang jenis penyakit itu adalah rahasia, hanya tim panitia tertentu yang mengetahui,” jelasnya.
Meski begitu, Suci memberi sedikit gambaran. “Tapi salah satunya yang paling krusial, ada salah satu dari mereka yang gugur karena indikasi penyakit jantung. Dan kami juga menyampaikan kepada publik bahwa bukan hanya satu, tetapi ada beberapa.”
Artikel Terkait
Toren Air Gratis untuk Warga Jakarta yang Kesulitan Air Bersih
Lemkapi Bongkar Upaya Adu Domba Kapolri dan Presiden Prabowo
Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Picu Ancaman Posisi Kapolri
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Tahuna, Getaran Terasa hingga Daratan